Misteri Warisan Hitchcock dari The Mystery of The Hitchcock Inheritance |
Showing posts with label Three Investigator. Show all posts
Showing posts with label Three Investigator. Show all posts
Monday, November 1, 2010
Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 01
Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 02
BAB II
TANTANGAN DARI KUBUR
Keesokan paginya anak-anak itu berdiri menunggu di luar gerbang besar Jones Salvage Yard. Masing-masing telah mandi sebersih-bersihnya dan mengenakan pakaian terbagus mereka, seperti yang tiap kali mereka lakukan jika hendak mengunjungi World Studios untuk menemui Alfred Hitchcock. "Ini dia Worthington," kata Jupiter. Worthington adalah seorang supir sempurna berkebangsaan Inggris yang bertanggung jawab atas Rolls Royce bersepuh emas yang dimenangkan Jupiter dalam suatu lomba beberapa waktu yang lalu. Berkat kedermawanan seorang klien bernama August August, mereka telah mendapatkan hak untuk menggunakan mobil mewah itu tanpa batas waktu. Mobil itu memberi kesan tersendiri setiap kali mereka mengunjungi World Studios untuk meminta Alfred Hitchcock menuliskan kata pengantar untuk sebuah kasus. Worthington menoleh di tempat duduk pengemudi ketika anak-anak itu masuk.
"Selamat pagi, Tuan-tuan," katanya. "Sebelum ini saya khawatir bahwa jasa transportasi yang saya sediakan untuk pemakaman Mr. Hitchcock akan menjadi tugas saya yang terakhir bagi Anda. Saya sangat gembira bahwa saya telah salah."
"Tidak mungkin, Worthington," kata Pete. "Bahkan sekarang kita akan pergi ke World Studios untuk mengunjungi seorang produser film yang lain."
"Bagus sekali, Master Pete," Worthington tersenyum. "Ke World Studios!"
Sebentar kemudian mobil hitam mengagumkan itu meluncur masuk melalui gerbang studio besar tersebut. Ernie, penjaga gerbang, telah mengenal mobil itu dan melambai menyilakan mereka lewat sambil tersenyum. Worthington membawa mobil itu ke sebuah kantor dengan "R. CLARKE" tertulis di pintu dengan huruf-huruf rapi.
Anak-anak keluar dari mobil dan Jupuiter mengetuk pintu, kemudian masuk. Di tempat penerima tamu duduk Henrietta Larson, sekretaris pribadi Mr. Hitchcock sebelum kepergiannya. Anak-anak itu masih ingat kesulitan yang mereka hadapi ketika mereka berusaha melewati Si Angkuh Henrietta untuk menemui Mr. Hitchcock pertama kalinya. Sekarang nampaknya ia akan menjadi sekretaris Mr. Clarke.
"Selamat pagi, Henrietta," kata Jupiter. "Mr. Clarke ada? Kami ada janji dengannya pukul sembilan."
Henrietta sedang mengeluarkan barang-barang dari sebuah kotak kecil. Jupiter dapat melihat bahwa ia baru saja memindahkan benda-benda pribadinya dari meja lamanya di kantor Mr. Hitchcock. Hal itu jelas telah membuat gadis itu merasa tertekan dan ia mengusap matanya dengan saputangan. "Ya, tentu saja," katanya terisak. "Silakan langsung masuk."
Anak-anak merasa kasihan terhadapnya. Tanpa bersuara mereka berjalan ke pintu.
"Jupiter, Peter, Robert ...," katanya.
Ketiga anak itu menoleh.
"Senang bertemu dengan kalian lagi."
Mereka tersenyum. "Senang bertemu denganmu lagi, Henrietta," kata Bob. "Kami gembira engkau sekarang bekerja untuk Mr. Clarke."
Mereka memasuki ruangan kantor yang luas itu, Reginald Clarke, produser film ternama itu, duduk di belakang sebuah meja kayu yang sangat besar. Ia sedang berbicara di telepon, maka anak-anak duduk dengan tenang dan menunggunya selesai.
Sebentar kemudian ia meletakkan telepon dan berpaling menatap mereka. "Selamat pagi, Teman-teman. Terima kasih telah datang menemuiku."
"Suatu kehormatan bagi kami, Mr. Clarke," kata Jupiter. "Apa yang bisa dilakukan Trio Detektif untuk Anda?"
"Hmmm," gumam pria bertubuh besar itu, "sebenarnya bukan apa yang bisa kalian lakukan untukku," katanya. "Lebih tepat dikatakan apa yang bisa kalian lakukan untuk Mr. Hitchcock."
Anak-anak menatapnya dengan bingung dan Mr. Clarke terkekeh.
"Tidak terlalu membingungkan sebenarnya ... paling tidak belum!" katanya. "Keluarga Mr. Hitchcock yang sebenarnya memerlukan bantuan."
"Apapun yang dapat kami lakukan, kami siap," kata Jupiter. "Hanya itulah yang dapat kami tawarkan."
Produser itu memandang mereka dengan suram dan mengangguk. "Memang kuharap kau akan berkata demikian," katanya akhirnya. "Hari ketika sahabat karibku Alfred Hitchcock meninggal adalah hari yang menyedihkan namun ialah yang tertawa paling akhir ... dari dalam kubur!"
"Waduh!" kata Pete. "Aku tidak terlalu suka mendengarnya!"
Mr. Clarke terkekeh lagi. "Kau pastilah Pete," katanya. "Meskipun ini adalah kali pertama kita bertemu, aku merasa aku telah mengenal kalian. Hitch sering berbicara tentang kalian dan beberapa kali menyinggung petualangan yang kalian bawa ke mejanya. Nah, sekarang aku punya sebuah petualangan terakhir dari mejanya jika kalian punya keberanian untuk menerimanya."
"Jika melibatkan Mr. Hitchcock, kami akan menerimanya," kata Jupiter dengan segera. "Kami berutang banyak kepadanya."
"Bagus," kata Reginald Clarke. "Dan sekarang inilah misterinya. Sebelum meninggal, Hitch telah menuliskan surat wasiatnya yang meninggalkan sebagian besar miliknya untuk keluarganya, khususnya Patricia, putri tunggalnya. Bagi Hitch keluarga selalulah yang utama dan kini mereka takkan kekurangan apa-apa lagi. Bagaimanapun, Hitch jugalah seseorang yang gemar bercanda. Menurutku, persahabatannya dengan kalian bertiga memainkan peranan besar dalam hal itu. Ia menyukai misteri. Dan semakin misterius semakin bagus kalau boleh kutambahkan! Nah, mungkin sifatnya yang gemar bercanda yang membuatnya menambahkan paragraf kecil ini pada halaman terakhir surat wasiatnya."
Mr. Clarke mendorong setumpuk kertas melintasi mejanya dan anak-anak berkerumun mendekat untuk mengamatinya. Itu adalah fotokopi dari surat wasiat Alfred Hitchcock. Mr. Clarke melanjutkan sementara anak-anak mempelajari dokumen itu.
"Aku mendapatkannya dari putri Hitch, Patricia. Ia sama sekali tidak mengerti maksudnya dan ia memintaku untuk menghubungi tiga remaja yang mengenal ayahnya dan senang menyelesaikan teka-teki. Nah, sekarang kalian ada di sini dan inilah surat wasiatnya. Ada pendapat?"
Jupiter menggaruk kepalanya dan kelihatan agak kesal. "Maaf, sir," katanya lambat-lambat. "Saya tidak yakin bagian mana yang harus kami lihat. Semua nampak seperti bahasa resmi yang digunakan para pengacara."
Reginald tersenyum dan mencondongkan badannya. Produser itu menunjuk ke sebuah paragraf pendek di bagian paling bawah surat wasiat, paragraf yang sebelumnya tidak mereka lihat. Bunyinya:
"Article 33: Skip the H20 and within my estate you�ll find the Crate that leads you to the paddy wagon. Follow the clues and pay your dues and the 2nd of 55 will reward you."
"Benda 33: langkahi H2O dan di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti yang akan membawamu ke gerobak bergembok. Ikuti petunjuk, lakukan kewajibanmu, dan yang kedua dari 55 akan memberimu penghargaan." *)
"Ya ampun!" seru Bob. "Apa maksudnya itu?"
Mata Jupiter berbinar-binar sementara ia membaca pesan aneh itu. "Sepertinya ia meninggalkan ini hanya untuk kita!" serunya. "Apakah Anda keberatan jika kami menyalinnya, Mr. Clarke?"
"Sama sekali tidak," kata sang produser dengan mata bersinar. "Aku punya perasaan kalian akan sering mengacu ke paragraf itu selama beberapa waktu setelah ini."
Bob segera mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan pensil dari saku belakangnya dan mulai menyalin pesan aneh itu. Jupiter hampir-hampir melupakan sekelilingnya karena bergairah.
"Kita bisa langsung mulai! Sudah jelas kita harus mengunjungi tanah milik Mr. Hitchcock, seperti yang dikatakan kalimat pertama. Apakah Anda tahu kediaman pribadi Mr. Hitchcock, Mr. Clarke?"
"Ya," kata produser film itu. "Bahkan aku telah memberi petunjuk arah kepada Worthington dan putri Hitch, Patricia, menunggu kedatangan kalian pada pukul setengah sepuluh."
"Waduh, lima belas menit lagi!" kata Pete. "Kita harus buru-buru!"
Anak-anak mengucapkan terima kasih kepada produser besar itu dan bergegas keluar dari kantornya. Reginald Clarke hanya dapat tersenyum. Ia merasa akan sering melihat Trio Detektif untuk beberapa waktu selanjutnya.
Next Chapter
Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 03
BAB III Limat menit sebelum waktu yang telah ditentukan Worthington mengemudikan Rolls Royce melewati jalan masuk dengan batu bata sebagai pembatasnya, menuju sebuah rumah sederhana dengan gaya peternakan. Tanaman yang terawat rapi mengelilingi rumah itu dan pohon-pohon pisang berdaun lebat serta bunga mawar menghiasi bagian tengah jalan masuk yang melingkar. |
Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 04
BAB IV Dua hari kemudian pesawat Trio Detektif melakukan pendaratan di Bandara Heathrow, London. Anak-anak dengan mudah memperoleh izin dari orangtua mereka begitu mereka menjelaskan bahwa mereka sedang menolong putri Alfred Hitchcock. Tidak ada kejadian menarik selama penerbangan, selain goncangan kecil akibat badai yang mendekati London, yang hampir saja membuat Pete mabuk udara. Akhirnya pesawat itu mendarat dan mereka berlima masuk ke sebuah limousine yang sudah menanti, mengobrol penuh semangat. |
Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 05
BAB V Keesokan paginya anak-anak terbangun oleh bau harum telur dan daging goreng. Mereka cepat-cepat berpakaian dan turun ke dapur. Ben dan Patricia sudah mulai makan di sana. |
Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 06
BAB VI
TERJEBAK!
"Hei, keluarkan kami!" teriak Pete. "Ssst! Diam!" desis Jupe. "Dengar ... aku dapat mendengar langkah-langkah kaki di kantor."
Anak-anak menahan nafas. Samar-samar terdengar suara langkah kaki di koridor yang panjang.
"Kau dengar bagaimana suara langkah kaki itu?" tanya Jupiter, menyuarakan pikirannya.
"Apa maksudmu?" bisik Pete di tengah kegelapan. "Kedengarannya seperti langkah kaki biasa."
"Tidak," kata Jupiter, "ada yang aneh. Sepertinya langkah yang satu terdengar lebih berat daripada yang lain."
Bob dan Pete telah mengenal Jupiter Jones dengan baik dan mereka tidak mau berdebat dengannya tentang sesuatu yang menyangkut ingatan. Otak Jupiter nyaris dapat merekam segala sesuatu yang terjadi dan ia jarang sekali melupakan hal-hal kecil sekalipun.
"Benar," kata Ben. "Sepertinya seseorang berjalan terpincang-pincang."
"Atau dengan tongkat!" kata Bob.
Pete berseru, "Jebediah yang mengurung kita!"
"Atau seseorang yang ingin kita menyangka Jebediah," koreksi Jupiter. Di dalam kegelapan otak Penyelidik Pertama berputar kencang. "Ben, bagaimana tepatnya Jebediah menjadi pincang?"
Ben berpikir sejenak. "Sepertinya Bibi Patty pernah berkata akibat kecelakaan mobil bertahun-tahun yang lalu. Kurasa kakinya benar-benar hancur. Mengapa kau bertanya, Jupiter?"
"Karena meskipun Jebediah menggunakan tongkat, ia masih dapat bergerak dengan cukup lincah. Siapapun yang mengurung kita di sini berjalan menjauh dengan sangat lambat, seolah-olah dengan sengaja agar kita mendengar. Aku sama sekali tidak yakin itu adalah Jebediah!"
"Tapi mengapa ada orang yang mau berpura-pura sebagai Sepupu Jeb?" tanya Ben.
"Mungkin sekali untuk mengalihkan kecurigaan terhadapnya," kata Jupiter, "sekaligus membelokkan penyelidikan kita."
"Aku memilih untuk mendiskusikan hal ini nanti saja," kata Pete tidak sabar. "Aku merasa lebih enak jika dapat melihat tanganku di depan mukaku."
"Aku setuju dengan Pete," kata Bob. "Semakin cepat kita keluar dari sini semakin baik."
"Baiklah," Jupiter mengalah. "Kemungkinan ada semacam mekanisme untuk membuka pintu itu dari dalam sini, mari kita coba dulu."
Bob meraba-raba permukaan pintu yang halus. "Tidak ada pegangan pintu," katanya cemas. "Mungkin ada namun kita takkan menemukannya dalam kegelapan. Mari kita menaiki tangga dan mencoba pintu di ujung satunya."
"Baik," kata Penyelidik Pertama. "Berpegangan pada ikat di depan kalian ... siapa tahu."
"Siapa tahu apa?" tanya Pete gugup.
Dengan Jupiter di depan, anak-anak menaiki undakan yang curam itu dengan hati-hati. Sekitar dua puluh anak tangga kemudian mereka sampai ke suatu dataran dan langit-langit kembali merendah. Sambil merangkak anak-anak mencapai pintu rahasia di ujung satunya.
"Di sini pun aku tidak menemukan pegangan pintu," kata Jupiter, berusaha menyembunyikan rasa cemas. "Tapi aku bisa melihat cahaya melalui retakan di pintu. Mungkin dua di antara kita bisa mendobraknya."
"Biar kubantu," kata Ben. "Mari kita dorong pada hitungan ketiga."
"Hitungan ketiga," ulang Jupiter. "Siap? Satu, dua, tiga!" secara serempak mereka membenturkan bahu ke pintu kecil itu. Terdengar bunyi kayu pecah di sisi sebaliknya dan kemudian udara segar beserta cahaya masuk ke dalam lorong. Jupiter dan Ben berjatuhan ke lantai.
"Berhasil!" seru Pete dan Bob serempak.
Anak-anak merangkak keluar dari jalan rahasia itu dan memandang berkeliling.
Ruangan tempat mereka berada nampak seperti perpaduan antara bioskop dan museum. Benda-benda dari beberapa film Alfred Hitchcock yang termasyur memenuhi ruangan sementara di ujung ruangan sebuah layar film yang besar memenuhi dinding. Berbaris-baris kursi bioskop yang mewah mengisi bagian tengah ruangan. Tali pemisah berwarna merah tergantung pada tiang-tiang kuningan, persis seperti sebuah bioskop yang sebenarnya.
"Ini ruangan proyektor milik kakekku!" seru Ben. "Bibi Patty pernah bercerita kepadaku tentang ruangan ini namun aku belum pernah masuk ke dalam. Pintunya selalu dikunci."
Jupe, yang selalu membanggakan diri atas pengetahuannya yang mendalam mengenai film dan teater, ternganga melihat segala tanda mata yang berjajar di ruangan. "Lihatlah ini!" katanya. "Ini adalah miniatur Mount Rushmore yang digunakan dalam film 'North By Northwest'! Dan yang di sana itu adalah gagak mekanik yang digunakan dalam 'The Birds'! Dan mesin pemutar lagu ini dari 'Diabolical'."
"Apa ini?" tanya Pete, mengangkat sebuah botol anggur berisi semacam pasir.
"Itu dari film 'Notorious'," kata Ben dengan kagum. "Dalam film pasir hitam itu adalah uranium. Sebuah film yang hebat!"
Bob sedang berada di ujung ruangan untuk mengamati tirai kamar mandi dan seperangkat pisau ketika sesuatu di lantai menarik perhatiannya.
"Oh, Ben," katanya.
"Ya, Bob, apa yang kau temukan di sana?"
"Kau bilang ruangan ini selalu terkunci?"
"Setiap saat," kata Ben. "Ada apa?"
Bob menelan ludah dan menunjuk ke benda yang menarik perhatiannya. Beberapa serpihan kayu tergeletak di lantai dekat kaki Bob! "Seseorang telah mendahului kita lagi," katanya.
Jupiter berlari mendekat dan memeriksa pintu. Tertutup namun tidak terkunci.
"Pintu ini telah dicongkel ... sepertinya dengan menggunakan linggis," remaja gempal itu melaporkan. "Seseorang berusaha masuk ke ruangan ini dengan terburu-buru. Kemungkinan setelah mengunci kita di dalam lorong rahasia!"
"Berarti mereka mungkin saja telah menemukan harta itu sekarang!" seru Ben.
"Tidak, kecuali mereka telah memecahkan bagian terakhir teka-teki!" kata Jupiter. "Bob, mari kita lihat catatanmu lagi."
Sekali lagi anak-anak membaca pesan itu.
"Article 33: Skip the H20 and within my estate you�ll find the Crate that leads you to the paddy wagon. Follow the clues and pay your dues and the 2nd of 55 will reward you."
"Benda 33: langkahi H2O dan di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti yang akan membawamu ke gerobak bergembok. Ikuti petunjuk, lakukan kewajibanmu, dan yang kedua dari 55 akan memberimu penghargaan."
"Creighton Duke -- 'peti' kita -- telah membawa kita ke foto bibimu Patricia," kata Jupiter, menyuarakan pikirannya. "Kita telah mengikuti petunjuk dan tiba di ruang proyektor Mr. Hitchcock. Sekarang kita harus melakukan kewajiban kita dan yang kedua dari 55 akan memberi kita penghargaan."
"Kita memang telah mengikuti petunjuk," kata Pete. "Tapi apa maksudnya 'melakukan kewajiban'?"
"Mungkin membayar semacam iuran keanggotaan -- pay your dues," kata Ben. "Kita harus membayar iuran untuk tetap menjadi anggota klub. Bagaimana, Jupiter?"
Jupiter berdiri tenang, mencubiti bibir bawahnya penuh konsentrasi. Matanya menyapu ruangan, berusaha mencari hubungan antara teka-teki itu dan benda-benda yang berasal dari film. Tapi akhirnya Bob yang menemukannya.
"Wah!" serunya. "Sepertinya aku tahu!" Detektif berbadan kecil itu masuk kembali ke lorong rahasia melalui pintu kecil di dinding. Ia menutup pintu dan membukanya lagi sementara yang lain berusaha memahami tindakannya.
"Rasanya aku tidak mengerti, Data," kata Jupiter sambil mengerutkan kening.
"Benda apa yang pertama kali kulihat ketika aku membuka pintu rahasia ini?" tanyanya. "Mesin pemutar lagu! Apa yang kita lakukan dengan sebuah mesin pemutar lagu?"
"Kita memasukkan koin untuk menyuruhnya memainkan lagu!" seru Ben. "Itulah kewajiban yang harus kita lakukan!"
Jupiter Jones nampak agak kesal karena bukan ia yang memecahkan bagian teka-teki itu namun ia menyelamati Bob dengan sportif.
"Deduksi yang hebat, Data," katanya.
Wajah Bob nyaris bersinar akibat pujian Jupe. Tidak sering Penyelidik Pertama mengakui bahwa seseorang telah mendahuluinya memecahkan masalah.
"Kalau begitu yang kedua dari 55 pastilah sesuatu yang berhubungan dengan mesin pemutar lagu," kata Pete. "Mr. Hitchcock pastilah memaksudkan baris kedua atau bait kedua dari lagu nomor 55 sebagai petunjuk selanjutnya!"
Jupiter dengan cepat menyalakan mesin itu dan menekan nomor 55 di layar. Anak-anak dengan bergairah menunggu mulainya lagu itu.
Tidak terjadi apa-apa.
"Ada yang tidak beres," kata Jupiter. Ia menekan nomor 55 lagi dan menunggu.
"Mengapa lagu itu tidak dimainkan?" seru Pete.
Jupiter berlutut dan memeriksa mesin itu. Jemarinya menemukan sebuah tuas kecil yang membuka bagian depan mesin. Ia membukanya dan mengangkat bagian depan mesin itu. Nampaklah berbaris-baris piringan hitam antik.
"Seperti yang kutakutkan," kata Jupiter muram. "Nomor 55 tidak ada!"
Next Chapter
Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 07
BAB VII
HARTA TERSEMBUNYI
"Bagaimana kita bisa tahu yang kedua dari 55 jika lagu nomor 55 tidak ada?" tanya Pete putus asa. Keempat anak itu berdiri mengelilingi mesin pemutar lagu di ruang proyektor Alfred Hitchcock, menatap tempat piringan hitam yang kosong itu dengan tidak percaya.
"Nampaknya kita telah kalah, Teman-teman," kata Ben sedih, menutup bagian depan mesin itu. "Bagaimanapun juga, usaha yang bagus. Kalian benar-benar detektif hebat, bisa sampai sejauh ini. Kalian patut mendapatkan pujian."
Orang biasa akan menyerah kalah saat itu juga. Namun Jupiter Jones sama sekali bukan orang biasa. Ia mengerutkan kening sambil menatap mesin pemutar lagu itu, merasa yakin ada yang terlewatkan. Sesuatu yang jelas. Ketika akhirnya ia mendapatkannya, ia tersenyum bangga.
"Dari raut wajah Jupe," kata Bob, menyadari senyuman Jupiter, "aku berani mengatakan Trio Detektif belum lagi kalah!"
"Kau menemukan sesuatu, Jupiter?" tanya Ben penuh harap.
"Penjahat itu tidak sepintar sangkaan mereka," kata Jupiter. "Ia mengambil piringan hitam itu ... namun sama sekali lupa akan cara kerja mesin pemutar lagu."
"Coba tolong jelaskan lagi, Pertama," keluh Pete.
Penyelidik Pertama yang gempal mengusap permukaan kaca mesin pemutar lagu, seolah-olah mengatakan bahwa Pete dan Bob -- seperti dirinya -- seharusnya bisa menemukan petunjuk itu dengan mudah. Ketika mereka hanya menatap kosong, ia mendesah. "Pencuri itu harus mengangkat bagian depan mesin ini untuk mengambil piringan hitam," Jupiter menjelaskan dengan sabar. "Saat itu ia lupa bahwa di kaca penutup ini terdapat daftar lagu ... dan nomor urutnya!"
"Tentu saja!" kata Bob. Petunjuk memang jelas setelah dijelaskan oleh Jupiter. "Tanpa daftar lagu kita hanya bisa menebak-nebak lagu apa yang dimainkan saat itu. Lagu nomor 55 ada di dalam daftar lagu ini!" Remaja ramping berkacamata itu menelusuri daftar lagu dengan jarinya sampai ia menemukan nomor 55. "Ini dia!" serunya. "'Harta Tersembunyi' oleh sebuah grup musik bernama 'Denny Lynds & The Gail Force Winds'."
"Kita harus mencari lagu itu!" perintah Jupiter. "Dengan segera!"
"Ben, apakah ada toko musik di dekat sini tempat kita dapat menemukan lagu itu?" tanya Pete.
Remaja Inggris itu berpikir sejenak. "Yang paling dekat ada di Picadilly Circus," katanya kemudian. "Kita dapat menggunakan mobilku untuk pergi ke kota!"
Pete nampak bergairah. "Akhirnya kita bisa juga melihat pemandangan!"
"Sayangnya tidak," kata Jupiter sambil menggelengkan kepala. "Kau dan Bob tinggal di sini."
"Mengapa selalu harus kau yang dapat bersenang-senang?" tanya Pete setengah bercanda.
"Karena harus ada yang mengawasi Jebediah dan Keluarga Fitchhorn," Jupiter menjelaskan. "Seseorang telah mendahului kita ke semua petunjuk ... namun kita pastilah tidak tertinggal terlalu jauh karena mereka repot-repot mengunci kita di lorong rahasia itu."
"Jupe benar," kata Bob setuju. "Tapi marilah kita berangkat bersama-sama. Lalu ketika kita sudah cukup jauh dari rumah, Pete dan aku dapat menyelinap kembali ke rumah ini. Mungkin si pencuri akan beraksi ketika ia menyangka kita sedang pergi."
"Ide yang bagus, Data," kata Jupiter. "Mari kita umumkan bahwa kita akan pergi melihat-lihat di kota dan tidak akan ada di sini selama beberapa jam."
Anak-anak meninggalkan ruang proyektor dan berbaris menuruni tangga. Di bawah mereka bertemu dengan Patricia.
"Aku mencari-cari kalian, Anak-anak!" katanya. "Ada kemajuan dengan teka-teki itu?"
"Sayangnya tidak," kata Jupiter kuat, mengedipkan mata ke arah Patricia. "Kami menghadapi jalan buntu, maka kami memutuskan untuk pergi ke London, melihat-lihat atraksi turis di sana."
Putri Alfred Hitchcock itu dengan segera mengerti dan membalas kedipan Jupiter.
"Wah, sayang sekali," katanya. "Mungkin sedikit udara segar bisa menjernihkan pikiran kalian dan nanti bisa ada kemajuan dalam teka-teki ayahku."
Anak-anak mengenakan jaket mereka dan berjalan menuju pintu. "Kami akan naik mobilku, Bibi Patty," Ben berseru sambil menoleh ke belakang. "Kami akan berusaha kembali sebelum makan malam!"
"Bersenang-senanglah, Anak-anak!" seru wanita itu di belakang mereka. "Dan hati-hati di jalan, Benjamin!"
Mobil Ben adalah sebuah Silver Cloud yang mulus, dengan atap yang bisa dibuka dan empat tempat duduk. Pete bersiul sambil mengusap-usap kap mesinnya yang mengkilap.
"Kau yakin Bob dan aku tidak dapat ikut?" pintanya memelas.
Jupiter menyeringai. "Begitulah. Tapi aku berjanji Ben dan aku akan bersenang-senang demi kalian berdua."
"Lucu sekali!" kata Pete mencibir.
"Jangan lupa bahwa kalian sedang menangani sebuah kasus!" tambah Bob sambil masuk ke dalam mobil sport itu.
Mobil itu meraung hidup dan anak-anak memasang sabuk pengaman mereka. "Mari kita pergi!" seru Ben. Dan dengan sedikit tanah berhamburan mobil itu meluncur ke jalan.
Ketika mereka sudah di luar jangkauan penglihatan dari Puri Hitchcock, Ben menghentikan Silver Cloud itu di tepi jalan.
"Ada jalan setapak melintasi hutan di sana itu yang digunakan para pemburu musim berburu," ia memberi petunjuk kepada Bob dan Pete sementara mereka keluar dari jok belakang mobil. "Berjalanlah di sebelah kanan dan jalan itu akan membawa kalian kembali ke rumah. Dari situ kalian bisa menggunakan pintu masuk Abernathy untuk menyelinap masuk."
"Satu dari kalian mengamati Jebediah sementara yang satunya mengawasi Keluarga Fitchhorn," usul Jupiter. "Dan hati-hati," tambahnya.
"Dan kalian jangan sampai terlalu banyak bersenang-senang," tukas Pete.
Dan Silver Cloud pun meluncur menjauh, meninggalkan kedua detektif itu di tepi jalan.
"Sungguh menguntungkan menjadi Penyelidik Pertama!" protes Pete.
Bob tersenyum dan menepuk punggung temannya. "Ayo," katanya, "mulai berjalan."
Rumah nampak sepi ketika Bob dan Pete tiba. Dengan hati-hati mereka mengamati halaman belakang untuk memastikan tidak ada orang yang melihat.
Pete mendesis, "Lihat!"
Jebediah O'Connell sedang berkeliaran di halaman, mencungkil beberapa batu taman dengan tongkatnya dan melihat ke baliknya. Lelaki berkumis lebat dan bertopi aneh itu meletakkan tangannya di atas sebuah jam matahari dan membungkuk untuk mengamati sesuatu di tanah.
"Kira-kira apa yang dicarinya?" bisik Bob.
"Kau tinggal saja di sini dan mencari tahu," kata Pete. "Aku akan mencari Fitchhorn."
"Tidak akan terlalu sulit," Bob menyeringai. "Ikuti saja suara pertengkaran!"
"Terima kasih atas petunjuknya," gumam Pete. "Sampai ketemu nanti." Penyelidik Kedua menunggu sampai Jebediah membelakanginya, kemudian berlari menuju pintu masuk pelayan di bagian belakang rumah.
Bob memandangi temannya masuk ke dalam dan kemudian berusaha mencari posisi yang nyaman di balik sebatang pohon yang telah tumbang, mengawasi dan menunggu tindakan si licik Jebediah O'Connell selanjutnya.
Di dalam rumah Pete bergerak seperti sesosok bayang-bayang. Ia menyelinap dari satu ruangan ke ruangan yang lain, setiap beberapa saat berdiam diri untuk mendengarkan.
Rumah itu terasa terlalu sunyi.
Ia mulai bertanya-tanya jika Keluarga Fitchhorn telah pergi ketika bunyi sebuah pintu berderit di engselnya membuatnya menahan nafas dan ototnya menegang.
Pete mengambil kesimpulan bahwa suara itu berasal dari ruangan kecil di dekat dapur yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan kering dan kalengan. Ia berjingkat menuju dapur dan memandang sekilas.
Pintu menuju tempat penyimpanan anggur terbuka!
Pete menggigit bibir dan memandang berkeliling. Di manakah Bob saat dibutuhkan? Remaja kekar itu ragu-ragu sejenak dan kemudian beringsut menuju pintu dan mendengarkan lagi.
Ia merasa mendengar seseorang bergerak di bawah sana namun tidak yakin. Setelah menarik nafas panjang, Pete menyelinap menuruni tangga batu yang dingin. Bau udara yang lembab dan sumpek menghantamnya, membuatnya mengerutkan hidung.
Ada sebuah bola lampu yang menyala di bawah tangga namun bagian lagi ruang bawah tanah itu diselimuti bayang-bayang gelap yang membuat bulu kuduk Pete berdiri. Pipa-pipa dalam berbagai ukuran bersimpang siur di langit-langit dan batu-batu tua serta semen tersusun membentuk dinding. Ia mulai berpikir untuk kembali dan menemui Bob ketika terdengar lagi bunyi pintu berderit yang membuatnya terpaku.
Ada seseorang di bawah sana!
Pete Crenshaw mengumpulkan segala keberaniannya dan memaksa diri menyusuri rak-rak berdebu yang dipenuhi toples-toples acar dan botol-botol anggur milik Puri Hitchcock yang tak terhingga jumlahnya. Sebuah pintu kayu yang memudar dimakan usia berdiri di ujung ruangan. Pete menelan ludah dan dengan hati-hati mendekatinya.
Sebuah sarang laba-laba menyapu mukanya dan hampir saja ia terpekik kaget. Remaja jangkung itu kemudian mendengar bunyi gemeletuk dan menyadari bahwa ia membayangkan suara giginya sendiri beradu. Ia merapatkan rahang dan berusaha memikirkan tindakan yang akan diambil Jupiter Jones dalam situasi seperti ini.
Pete ragu-ragu sejenak di depan pintu yang terbuka itu, sekali lagi berhenti untuk mendengarkan. Terdengar suara air menetes di suatu tempat di dalam kegelapan. Sambil berusaha melihat ke dalam bayang-bayang, ia berjalan dengan lambat melalui ambang pintu. Hanya tiga anak tangga yang dapat dilihatnya, turun menuju sebuah ruangan kecil. Pete berdiam diri di atas tangga dan menunggu ... satu-satunya suara yang terdengar adalah debar jantungnya.
Tiba-tiba ada tangan yang mendorong punggungnya dengan kasar dan sambil terpekik Pete terjatuh dengan kepala dahulu ke dalam kegelapan!
Penyelidik Kedua yang atletis itu bangga akan kecekatannya dan ia berusaha mengendalikan jatuhnya -- mendarat di lantai batu yang aus sambil membalikkan badan untuk melihat si penyerang.
Tapi yang dilihatnya membuat darahnya seolah-olah kering!
Tepat sebelum pintu tua itu terbanting tertutup dan membuatnya berada di dalam kegelapan total, Pete Crenshaw sempat melihat seorang wanita bergaun Victoria yang menggenggam tali melingkar di tangan!
Next Chapter
Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 08
BAB VIII
DI MANA PETE?
Bob Andrews menarik jaketnya menutupi kepala dan menggerutu. Yang satu jam yang lalu mulai sebagai gerimis kecil telah berubah menjadi hujan dan kini sepertinya akan menjadi sangat lebat. Jebediah O'Connell masih tetap berkeliaran di halaman, kini dengan payung di atas kepalanya, berhenti di sana sini untuk mengamati sesuatu atau mencungkil sesuatu dengan tongkatnya. Bob bertanya-tanya jika nasib Pete lebih beruntung di dalam. Paling tidak ia kering!
Bob melihat arlojinya. Jam makan siang telah lama lewat dan kini perutnya memprotes. Bob menimbang-nimbang godaan untuk menyudahi pengawasannya terhadap Jebediah sehingga ia dapat masuk, mengeringkan badan, dan makan sesuatu. Tidak, Jupe tidak akan menerimanya, pikir anak itu. Lebih baik tetap berkeliaran di hutan, membuntuti Sepupu Jeb berjalan tanpa henti di bawah siraman hujan.
Remaja bertubuh kecil itu menggigil dan berusaha menahan giginya agar tidak bergemeletuk. Ia menerima keadaan bahwa ia harus tetap kedinginan, kelaparan, dan menderita hingga Jupe dan Ben kembali dari London.
Mujur bagi Bob, ia hanya perlu menunggu sejam lagi. Dari pos pengamatannya di antara pepohonan, Bob melihat Silver Cloud Benjamin Hitchcock, kini dengan atap terpasang, meluncur masuk dan berhenti. Sambil berhati-hati agar tidak terlihat oleh Jebediah, ia mengitari rumah untuk menemui teman-temannya.
"Ada kemajuan?" tanyanya.
Jupe mengacungkan sebuah kantung kertas kecil di tangannya sementara mereka berlari ke dalam. "Mereka mengizinkan kami mendengarkannya di toko," katanya. "Namun aku memutuskan untuk membelinya juga untuk berjaga-jaga."
Ketika anak-anak sedang menanggalkan jaket mereka yang basah, Patricia O'Connell muncul, nampak cemas.
"Aku gembira kalian telah pulang, Anak-anak," katanya.
Ben merasa ada sesuatu yang mengganggu pikiran bibinya dan nampak was-was. "Ada apa, Bibi Patty? Ada sesuatu yang terjadi?"
Wanita cantik itu tersenyum dan nampak agak malu. "Tidak, tidak, tidak ada apa-apa," katanya. "Hanya saja ... semenjak kalian pergi, aku mendengar suara-suara di rumah ini."
"Maksud Anda hantu, ma'am?" tanya Bob bersemangat.
"Oh, tidak!" kata wanita itu, memaksakan untuk tertawa. "Aku yakin bukan sesuatu semacam itu. Kurasa hanya karena sudah lama aku tidak berada sendirian di dalam rumah besar ini dan ... aku tidak tahu di mana Keluarga Fitchhorn dan aku tidak melihat Sepupu Jeb selama berjam-jam! Aku berusaha tidur siang namun tetap saja suara-suara aneh itu terdengar."
"Sepupu Anda Jeb ada di halaman," kata Bob memberi tahu. "Ia ada di luar sana selama berjam-jam."
Jupiter mengusap dagunya dan berpikir. "Bisakah Anda menunjukkan kepada kami tempat Anda berada ketika terakhir kali mendengar suara-suara itu?"
"Di dapur," kata Patricia.
Anak-anak mengikutinya ke sana, kemudian berdiam diri, mencoba menangkap suara hantu yang misterius.
Patricia nampak makin malu. "Aku mendengar suara aneh mengetuk-ngetuk -- seperti di dalam pipa -- dan aku bahkan berani bersumpah telah mendengar suatu suara beberapa kali." Ia memandang anak-anak dengan malu-malu. "Apapun itu, nampaknya sekarang sudah tidak ada."
Jupe tersenyum kepadanya. "Kami baru saja hendak mengadakan rapat, bagaimana jika Anda bergabung?" usulnya, berusaha membuat Patricia merasa nyaman. "Adakah tempat yang memungkinkan kita berbicara dengan tenang?"
"Perpustakaan," kata wanita itu. "Lewat sini."
Perpustakaan itu adalah sebuah ruangan besar dengan cahaya temaram yang dipenuhi buku-buku dan bayang-bayang. Dinding-dindingnya yang tertutupi buku-buku menjulang tinggi ke langit-langit yang melengkung. Samar-samar tercium bau kertas tua dan anak-anak teringat akan perpustakaan umum di Rocky Beach, tempat Bob bekerja paruh waktu.
Sebuah bola dunia yang besar sekali berada di salah satu sudut ruangan dan sebuah tangga tinggi beroda memungkinkan orang mencapai rak-rak buku tertinggi yang berdiri sepanjang tiga dinding ruangan. Salah satu sudut bersih dari buku. Di sudut ini terdapat sebuah jendela besar dari kaca berwarna-warni yang dengan jelas menggambarkan seorang ksatria dengan baju besi berwarna biru, duduk di atas punggung seekor kuda bermata delima. Sepotong kaca di bagian bawah jendela, berbentuk sebuah gulungan naskah, bertuliskan "Ksatria Templar" dalam huruf-huruf Inggris Kuno. Patricia menyingkapkan tirai tebal berenda dan secercah cahaya masuk ke dalam ruangan kelam itu, memperjelas lukisan di jendela.
Bob bersiul. "Aku tidak akan suka membersihkan jendela itu. Ksatria itu menatap kita lekat-lekat."
"Dan kuda itu juga tidak lebih ramah," tambah Ben sambil menggigil.
"Kurasa kita sudah hampir menyelesaikan teka-teki ini," potong Jupe. "Namun kita harus bergerak dengan cepat. Sepertinya ada pihak lain di dalam rumah ini yang juga sangat ingin menemukan harta itu."
"Jadi itu yang kau maksud dengan kerlinganmu tadi," kata Patricia. "Kau punya dugaan siapa itu, Jupiter?"
Jupe mengintip keluar melalui salah satu potongan kaca yang bening ke arah awan pembawa badai yang berarak-arak mendekat. Dari tempatnya berdiri ia dapat melihat halaman dengan jam matahari dan Jebediah di salah satu ujungnya. "Apa yang Anda ketahui tentang Keluarga Fitchhorn, Patricia?" tanyanya. "Dan apa yang Anda ketahui tentang sepupu Anda Jebediah?"
Patricia duduk di lengan sebuah kursi besar yang terbuat dari kulit dan mendesah, mengusap keningnya kembali. "Keluarga Fitchhorn tiba di sini bersama seorang pengacara yang meragukan ketika aku sedang berada di Hollywood untuk pembacaan surat wasiat ayahku. Mereka menunjukkan beberapa dokumen kepada Julia dan mengaku sebagai sanak saudara serta berhak atas sebagian tanah ini. Sebelumnya aku telah merasa bahwa kepergian ayahku akan mendatangkan beberapa orang semacam mereka, jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Sudah banyak hal di dalam pikiranku, maka kusuruh Julia membiarkan mereka tinggal sampai aku tiba. Saat itu kuharap mereka akan bosan sendiri dan akhirnya pergi."
"Dan bagaimana dengan sepupu Anda?" tanya Jupiter.
Patricia mendesah kembali. "Jebediah adalah seorang pria yang aneh. Ia nampak cukup jujur. Ia pensiun dini karena kakinya dan membantu-bantu di rumah ini sebagai tukang kebun. Kuizinkan dia tinggal di sini sebagai bayarannya. Ia nampak cukup puas akan perjanjian itu ... namun kadang-kadang ia berubah murung dan mengurung diri. Lalu ia akan menghilang selama beberapa hari tanpa mengatakan apa-apa."
Terdengar ketukan lembut di pintu dan Winston masuk membawa sebuah nampan. "Saya membawakan teh untuk Anda, madam."
"Kau sungguh baik, Winston," Patricia tersenyum. "Anak-anak baru saja berkata bahwa mereka hampir menyelesaikan teka-teki itu."
"Hebat! Apakah semua anak Amerika sepandai kalian?" Winston membungkukkan badan. "Namun bukankah kalian datang bertiga?"
"Waduh, benar!" seru Bob. "Pete telah hilang berjam-jam!"
Jupiter nampak cemas. "Maksudmu kau tidak melihatnya sejak Ben dan aku pergi ke London?"
"Tidak sejak kami berpencar," jawab Bob.
"Mungkin sebaiknya kita mencari Master Pete," saran Winston. "Mungkin ia tersesat di halaman. Tanah ini luas sekali ... orang bisa tersesat selama berhari-hari di tengah hutan!"
Jupiter hendak mengusulkan agar mereka berpencar untuk mencari Pete ketika tiba-tiba ia terdiam. "Sebentar," desisnya. "Dengarkan!"
Mereka berdiri diam dan menunggu selama beberapa saat dalam keheningan yang mencekam.
"Rasanya saya tidak mendengar apa-apa, Master Jupiter," kata Winston akhirnya. "Sebentar lagi gelap. Jika Master Pete ada di hutan ...."
"Tunggu ... sst!" bisik Jupiter lagi. "Kalian dengar itu?"
Mereka mendengarkan kembali. Kali ini samar-samar mereka dapat mendengar suara ketukan yang sepertinya datang dari lantai.
"Aku mendengarnya!" seru Ben. "Seperti seseorang memukul-mukul pipa."
"Itulah suara yang kudengar!" kata Patricia.
"Itu sinyal SOS!" seru Bob. "Pasti Pete yang berusaha memberi tanda kepada kita!"
"Di mana Pete bisa menemukan pipa?" tanya Jupiter cepat.
"Di ruang penyimpan anggur!" seru Winston. "Ikuti saya, Tuan-tuan!"
Kepala pelayan bertubuh ramping itu berlari keluar dari perpustakaan, diikuti oleh anak-anak dan Patricia. Ia membawa mereka ke gudang kecil di dekat dapur, membuka pintu, dan mereka menuruni tangga batu.
Winston meraba-raba di dalam kegelapan sampai menemukan seutas tali untuk menyalakan bola lampu di dasar tangga. Ketika ia menyalakannya, anak-anak dapat melihat jaringan pipa bersimpang siur di sepanjang langit-langit yang rendah ... sepertinya mustahil untuk mengetahui yang mana yang dipukul Pete!
"Ketukan itu semakin kuat sekarang," kata Jupiter.
"Lewat sini!" kata Winston. Pria jangkung berjas itu melintasi ruangan besar penyimpan anggur itu dengan ahli, baris demi baris botol anggur, hingga akhirnya ia mencapai sebuah pintu. Dengan cekatan ia membuka sebuah gerendel besar dan membuka pintu yang berat itu, menyebabkan engselnya berderit.
Di balik pintu itu Pete Crenshaw menggenggam sebuah pipa besi seperti sebuah pemukul baseball! Matanya tertutup dan ia keluar sambil mengayunkan pipanya, nyaris menghantam kepala Winston!
"Kau tidak akan bisa menangkapku, Hantu!" teriaknya.
Jupiter menyambar pergelangan tangan Pete dan mencegahnya meremukkan tengkorak Winston. "Pete!" serunya. "Pete, ini kami!"
Penyelidik Kedua yang kekar itu mengejapkan matanya beberapa kali sebelum melonggarkan genggamannya pada pipa.
"Wah, aku sungguh gembira bertemu denganmu!" katanya lemah.
Jupe mengambil pipa dari tangan Pete dan melemparkannya kembali ke dalam ruangan. "Apa yang terjadi?" tanyanya. "Bagaimana kau bisa terkurung di dalam situ?"
"Bawa aku ke bawah cahaya matahari yang hangat dan akan kuceritakan semuanya," kata Pete.
Mereka membawa teman mereka yang kelelahan ke tangga batu namun Jupiter berhenti di bawah dengan suatu pikiran di wajahnya.
"Ada apa, Pertama?" tanya Bob.
"Ini bukan waktunya untuk deduksi," erang Pete. "Aku harus makan sesuatu sebelum mati kelaparan!"
"Baiklah," kata Jupe. "Kurasa kau benar."
Mereka pergi ke lantai dua dan berkumpul di perpustakaan. Winston bergegas pergi ke dapur dan kembali dengan sebuah nampan berisi daging tebal, roti keju, dan soda jeruk.
"Sepertinya kau harus mengambilkan satu nampan lagi untuk yang lain!" canda Pete sambil menggigit roti. "Aku belum makan sejak sarapan!"
"Sementara Pete memulihkan diri dari kelaparan," kata Jupiter, diikuti sebuah gigitan besar pada rotinya, "Ben dan aku akan menceritakan apa yang kami temukan dari piringan hitam itu. Setelah itu Pete dapat memberi tahu kita bagaimana ia bisa terkurung di ruang penyimpan anggur."
"Saya jadi ingat, madam," kata Winston. "Saya tadi hendak memberi tahu Anda bahwa pintu ruang proyektor telah dibobol. Saya telah memperbaiki kuncinya namun Anda mungkin ingin memeriksanya sendiri." Ia berdehem dan nampak agak sungkan. "Saya tahu saya tidak pantas mengatakan ini, namun saya merasa wajib memberi tahu Anda bahwa saya melihat Mr. Fitchhorn di lantai atas," tambahnya kemudian.
"Terima kasih, Winston," kata Patricia. "Kurasa Keluarga Fitchhorn sudah waktunya pergi," katanya tegas. "Dan mereka tidak akan mendapatkan satu sen pun uang ayahku!"
"Kami akan mendapatkan yang merupakan hak kami yang sah!" sebuah suara menggeram dari pintu.
Next Chapter
Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 09
BAB IX
JAM DAN JAM LAGI
"Fitchhorn!" seru Pete. "Sekarang kita tidak bisa mendiskusikan petunjuk dari piringan hitam itu!" Lelaki berbadan bulat itu melangkah dengan penuh ancaman ke dalam perpustakaan, diikuti oleh istrinya yang kurus kering. "Kau punya petunjuk baru lagi?" ia bertanya kepada Jupiter. "Apakah itu, Nak? Ayo bicara!"
"Jangan, Jupe!" kata Bob marah. "Mereka membobol ruang proyektor dan mencuri piringan hitam itu ... dan sekarang mereka tidak dapat memecahkan petunjuknya!"
"Kami tidak pernah berbuat demikian, Anak Muda!" kata Stella Fitchhorn dengan suaranya yang melengking. "Betapa kurang ajarnya anak muda zaman sekarang!" Seolah-olah menegaskan perkataannya, ia mengeluarkan saputangan dan membersihkan hidungnya yang seperti paruh, mengeluarkan suara keras.
Timothy Fitchhorn menatap istrinya dengan marah. "Sudah kukatakan biar aku yang bicara!" geramnya. "Sekarang lebih baik kau katakan apa yang kau tahu, Nak. Jika kita bekerja sama, kita mungkin bisa memecahkan teka-teki si Tua Hitch malam ini juga!"
"Saya sangat meragukan kejujuran pria ini, madam," kata Winston. "Saya duga ia berniat mengambil seluruh harta itu begitu ditemukan."
"Dengar, kau pelayan tak tahu diuntung," ancam Mr. Fitchhorn, "kau digaji sebagai pelayan -- bukan konsultan! Lebih baik kau mengurusi urusanmu sendiri!"
"Cukup!" teriak Patricia. Bob melihat bahwa wanita itu gemetar dan nyaris tidak dapat menahan air mata. "Jupiter, katakan apa yang kau tahu dan kita semua akan mencari bersama-sama. Dengan demikian tidak seorang pun dapat menguasai apapun yang disembunyikan ayahku."
Tiba-tiba sebuah suara lain terdengar dari pintu. "Kudengar teriakan," kata Jebediah. "Apakah kalian sedang berpesta dan tidak mengundang Jebediah Tua?"
"Saya senang Anda ada di sini," kata Jupiter Jones. "Sekarang setelah kita semua berkumpul, kita bisa mendiskusikan petunjuk terakhir Mr. Hitchcock."
"Oh. omong kosong itu lagi," Sepupu Jeb mencibir. "Kalian boleh memiliki bagianku dari harta itu, aku tidak peduli. Mungkin sekali semua ini kelakar belaka, mengingat selera humor Mr. Hitchcock."
"Kalian semua dengar apa yang dikatakannya!" kata Mrs. Fitchhorn dengan lengkingannya, "ia tidak peduli akan bagiannya!"
"Diam!" tukas Timothy Fitchhorn. "Baiklah, Nak, apakah petunjuk terakhir dari piringan hitam itu?"
"Jupe, kau yakin akan ini?" tanya Pete.
"Aku tidak yakin ini adalah ide yang bagus, Bibi Patty," bisik Ben.
Jupiter berdiri di depan kaca jendela yang berwarna-warni dengan tangan di pinggang. "Rumah ini besar," katanya kemudian. "Namun tidak terlalu besar sehingga seseorang bisa bertindak tanpa diketahui yang lain untuk waktu yang lama. Daripada masing-masing berkeliaran sendiri-sendiri, lebih baik kita semua bekerja sama."
Timothy Fitchhorn mengusap-usapkan kedua telapak tangannya penuh semangat. "Keputusan yang bijak, Nak," ujarnya. "Sekarang, ada apa di piringan hitam itu?"
Jupiter menegakkan tubuhnya -- ia tidak dapat menahan godaan untuk menikmati perhatian yang terpusat kepadanya, hal itu sudah mendarah daging. "Bait kedua dari lagu 'Harta Tersembunyi' oleh Denny Lynds & The Gail Force Winds berbunyi:
"Waktu telah berhenti tanpamu, Aku seperti Adam tanpa Hawa, Aku akan terus mencari di dunia ini, Hingga aku telah menguburkan kesedihanku."
Mata Timothy Fitchhorn berbinar-binar penuh gairah. "Aku berani bertaruh, bagian tentang 'waktu yang telah berhenti' bermakna sebuah jam yang tidak berfungsi lagi!" serunya sambil mengusap keringat di dahinya dengan saputangan. "Pasti ada satu di salah satu tempat di rumah ini!"
Ben melompat bangkit. "Bibi Patty, Bibi tahu jam yang tidak berfungsi lagi?"
"Pasti ada berlusin-lusin jam di rumah ini," katanya putus asa, "beberapa di antaranya pasti tidak berfungsi lagi!"
"Kita harus memeriksa satu per satu," kata Jupiter. "Dan kita harus memeriksa bersama-sama. Ini satu-satunya jalan!"
"Ide yang bagus, Nak," Mr. Fitchhorn setuju, mendorong rambutnya kembali ke tempat semula dengan tangannya yang gemuk. "Mari mulai dengan jam besar ini!"
Para pemburu harta karun itu berkerumun di sekitar jam besar yang ada di perpustakaan sementara Winston dan Pete memeriksanya dengan seksama.
"Menurutku jam ini tepat waktu," kata Pete. "Rasanya ini jam yang salah."
"Ke ruangan sebelah!" seru Mr. Fitchhorn dengan cepat.
Satu per satu, semua jam di rumah itu mereka periksa. Hari telah larut ketika mereka tiba di ruang bilyar di lantai dua, satu-satunya ruangan yang belum mereka periksa. Mereka merasa frustrasi atas keberhasilan yang tak kunjung tiba.
"Ada dua jam di ruangan ini," kata Bob. "Satu jam dinding dan satu lagi jam besar yang berdiri di lantai."
Jam besar itu mulai berdentang, menunjukkan tengah malam, sementara Bob dan Ben mencopot jam yang lebih kecil dari dinding.
Ketika jam yang besar berdentang untuk terakhir kalinya, Jupiter duduk dengan tegak seolah-olah digigit oleh sesuatu. Ia menatap jam antik itu.
"Hei," kata Pete, "ada apa denganmu?"
Jupiter bergegas mendekati jam itu dan mulai meraba-raba. "Bantu aku, Pete," katanya. Yang lain menyadari gairah remaja gempal itu dan berkerumun di sekitar jam.
"Kau menemukan sesuatu, Jupiter?" tanya Ben penuh harap.
"Ingat, kami juga berhak!" Stella Fitchhorn mengingatkan orang-orang.
"Jangan berkata apa-apa lagi!" suaminya memperingatkan.
"Kecuali ada yang namanya 'jam tiga belas'," kata Jupiter melalui bahunya, "kurasa harta kita ada di dalam jam ini!"
"Wah!" kata Bob. "Aku sama sekali tidak menyadari jam ini berdentang tiga belas kali!"
Jupiter telah membuka pintu kaca tempat bandul jam. Jari-jarinya akhirnya menemukan sebuah tombol jauh di belakang.
"Dapat!" serunya.
Jarinya yang gempal menekan tombol itu dan terdengar suara 'klik' seperti kunci yang terbuka. Jam besar itu bergerak maju beberapa inci.
"Jam ini berengsel!" kata Jupiter kagum. "Suatu hasil karya yang hebat. Jam ini tergantung pada sebuah bingkai besi yang tertanam di dinding!"
Penyelidik Pertama yang gempal membuka jam yang berfungsi sebagai pintu itu, menampakkan suatu ruangan kecil yang tidak lebih besar daripada sebuah lemari. Ruang berdinding batu bata itu tidak berisi apa-apa kecuali sebuah landasan yang di atasnya terdapat patung dada Alfred Hitchcock, serupa dengan yang dimiliki anak-anak di markas.
Di bawah patung dada itu terdapat sebuah amplop, tersegel oleh lilin dengan tulisan "???" di atasnya.
Jupiter mengambil amplop itu, matanya bersinar-sinar. Namun ketika ia membalikkan surat di tangannya untuk membuka segel lilin itu, raut wajahnya berubah aneh.
"Ada apa, Pertama?" tanya Bob.
"Ayolah, Jupe," desak Pete, "buka!"
Timothy dan Stella Fitchhorn nyaris melompat-lompat kegirangan. "Ya, Nak," lelaki gendut itu menyeringai dan menjilat bibirnya, "buka!"
Jupiter mengacungkan amplop itu di depan mukanya. "Amplop ini sudah dibuka!"
Next Chapter
Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 10
BAB X "Apa maksud Anda?" tanya Winston. "Amplop itu tersegel!" |
Subscribe to:
Posts (Atom)