Showing posts with label Three Investigator. Show all posts
Showing posts with label Three Investigator. Show all posts

Monday, November 1, 2010

Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 01

Misteri Warisan Hitchcock

dari The Mystery of The Hitchcock Inheritance
oleh Mark Zahn
dialihbahasakan oleh FXRBDS

 

KATA PENGANTAR DARI REGINALD CLARKE

Salam, para penggemar Trio Detektif! Hari ini adalah kesempatan langka bagi kalian ... karena yang kalian pegang di tangan kalian saat ini adalah 'kasus yang hilang' dari detektif muda kita yang telah berpengalaman! Seperti kalian ketahui, banyak orang di dunia bersedih atas meninggalnya sutradara film besar dan pembimbing Trio Detektif, Alfred Hitchcock. Anak-anak itu merasa mereka telah kehilangan seorang sahabat karib dengan kepergiannya dan memang itulah yang terjadi. Maka ketika datang kesempatan untuk memecahkan sebuah misteri yang melibatkan surat wasiatnya, mereka langsung bersedia!
Jika kalian tidak terlalu mengenal Jupiter, Pete, dan Bob, maka biarlah ini menjadi kata perkenalan bagi kalian. Jika kalian telah mengenal mereka dengan baik, silakan langsung menuju Bab I dan menikmati cerita ini.
Seperti yang telah kuketahui dari teman lamaku Hitch, setiap kata pengantar Trio Detektif haruslah dimulai dengan Jupiter Jones yang sedikit kelebihan berat badan. Dikenal sebagai Jupe oleh kawan-kawannya, Penyelidik Pertama ini memiliki otak yang logis, hati yang penuh keberanian, dan tekad yang kuat untuk memecahkan teka-teki. Penyelidik Kedua adalah Pete Crenshaw, yang dengan perawakannya yang kekar dan atletis merupakan aset yang sangat penting bagi Trio Detektif. Dan tidak ada biro detektif yang dapat bertahan lama tanpa adanya catatan dan riset yang teratur rapi. Ini adalah bagian Bob Andrews. Bob cekatan dalam bertindak dan dengan fakta. Catatannya yang teliti memungkinkan kita semua untuk menikmati petualangan demi petualangan kelompok detektif muda ini.
Anak-anak itu tinggal di sebuah kota pantai bernama Rocky Beach, California, yang terletak di antara Santa Monica yang penuh bukit dan Hollywood yang gemerlap. Markas mereka adalah sebuah karavan rusak sepanjang sepuluh meter, yang mereka sembunyikan di antara tumpukan rongsokan di pangkalan barang bekas yang dikenal sebagai Jones Salvage Yard -- dimiliki dan dioperasikan oleh paman dan bibi Jupe: Titus dan Mathilda Jones.
Semboyan mereka adalah "Kami menyelidiki Apa Saja" dan dalam kasus ini mereka membuktikannya. Dan sekarang, cukup dengan kata pengantar. Seperti yang suka diucapkan teman lamaku Alfred Hitchcock ....
Lampu, kamera, action!
REGINALD CLARKE
 
 

BAB I
PERPISAHAN DENGAN SEORANG SAHABAT

"Aku masih tidak bisa percaya," kata Pete Crenshaw. Remaja jangkung itu duduk di atas peti tempat jeruk di bengkel Jupiter Jones, yang terletak di sudut Jones Salvage Yard. "Rasanya aku tidak pernah merasa sesedih ini."
Bob Andrews menghela nafas dan menendang sebutir kerikil. "Sulit dipercaya Mr. Hitchcock telah pergi," katanya. "Aku tahu kita baru saja pulang dari pemakamannya namun sepertinya masih sulit menerimanya."
Jupiter duduk di atas mesin cetak tua yang telah diperbaikinya beberapa waktu yang lalu. "Perasaan seperti itu wajar bagi orang yang baru saja kehilangan seseorang yang disayangi, Data," katanya, melonggarkan dasi. "Kita harus berusaha sebisa-bisanya membiasakan diri meskipun aku tidak yakin apa dampak kejadian ini bagi masa depan Trio Detektif."
Pete mengusap dagu dan menatap kosong. Tadi pagi ia, Jupiter, dan Bob meninggalkan Rocky Beach bersama Paman Titus dan Bibi Mathilda menuju ke Hollywood untuk menghadiri pemakaman sahabat lama mereka, Alfred Hitchcock, sang sutradara film kenamaan. Mereka telah mengenal Mr. Hitchcock sejak kasus pertama mereka, Misteri Puri Setan, dan sutradara besar itu telah menuliskan kata pengantar untuk setiap kasus mereka hingga yang terakhir, Misteri Karang Hiu. Sekarang pembimbing mereka telah pergi dan anak-anak itu merasa ditinggalkan.
"Jupe," kata Pete, "apa yang akan kita lakukan tanpa Mr. Hitchcock yang memberi kata pengantar untuk kasus kita?"
"Aku tidak tahu, Dua," jawab temannya yang gempal itu. "Sekarang aku bahkan tidak yakin bisa memecahkan misteri apapun."
Teman-temannya mengangguk setuju. Sukar untuk berpikir jernih sejak mereka mendengar berita duka itu. Tidak satupun dari mereka pernah ditinggalkan orang yang dekat dengan mereka. Meskipun Jupiter adalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi oleh paman dan bibinya, ia masih terlalu kecil ketika orangtuanya meninggal untuk mengingat mereka dengan jelas.
Hans dan Konrad, dua bersaudara dari Bavaria yang membantu di pangkalan barang bekas, muncul di pintu masuk bengkel. Mereka menggenggam topi mereka di tangan dan menyeret kaki mereka. Hans berdehem. "Jupe, Pete, Bob. Konrad dan aku ingin mengucapkan turut berduka cita atas kepergian Mr. Hitchcock."
"Ya," kata Konrad tulus, "apapun akan kami lakukan jika kalian memerlukannya."
"Terima kasih, Hans, terima kasih, Konrad," kata Jupe pelan. "Kami menghargainya."
"Baiklah," kata Hans. "Kalau ada yang kalian butuhkan, cukup bersiul saja." Dan kedua pemuda berambut pirang itu pergi dengan sedih, kepala mereka tertunduk.

*****

Beberapa hari kemudian anak-anak itu masih merasa sangat kehilangan. Untuk membantu mengalihkan pikiran mereka telah dengan suka rela membantu Paman Titus, Hans, dan Konrad mengganti lembaran seng yang menempel pada bagian dalam pagar pangkalan yang tinggi. Seng itu berfungsi sebagai atap yang melindungi barang-barang yang cukup berharga dari hujan dan panas matahari. Mereka sedang berjalan ke gerbang depan untuk mengambil lembaran seng terakhir ketika Bob melihat lampu merah di bengkel Jupiter berkedip-kedip.
"Telepon di markas!" katanya. "Mungkin sebuah kasus!"
Ketiga anak itu melupakan lembaran seng itu dan berlarian menuju karavan tua.
"Gunakan Pintu Empat karena kita berada di sisi jauh markas," kata Jupiter.
Pintu Empat adalah salah satu dari banyak jalan rahasia yang mereka gunakan untuk keluar masuk karavan yang tersembunyi itu. Darurat Satu, Lorong Dua, dan Gampang Tiga adalah jalan-jalan yang lain. Mereka berlari melalui sela-sela tumpukan barang bekas yang membentuk lorong yang rumit dan masuk ke markas melalui dinding samping. Jupiter menyambar telepon.
"Trio Detektif," katanya kehabisan nafas. "Dengan Jupiter Jones."
"Selamat siang, Jones. Namaku Reginald Clarke," kata sebuah suara yang sangat dalam dan penuh ketegasan. "Mudah-mudahan kau bisa meluangkan sedikit waktu."
Jupiter bergegas menyalakan pengeras suara yang terhubung ke telepon, yang terdiri dari sebuah radio tua dan mikrofon. Sekarang ketiga anak itu dapat mendengar pembicaraan yang sedang berlangsung.
"Reginald Clarke, produser film itu?" tanyanya heran.
"Itulah aku," kata Mr. Clarke. "Aku sadar kita belum pernah bertemu namun aku adalah sahabat Alfred Hitchcock ... kau tahu kami bekerja sama dalam beberapa film. Aku ingin mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya."
Terima kasih, sir," kata Jupiter. "Anda begitu baik."
Suara bariton Reginald Clarke yang dalam diam sejenak kemudian berlanjut. "Ada alasan kedua mengapa aku menelepon, itu jika Trio Detektif masih beroperasi."
"Ya, masih," kata Jupiter. "Apa yang bisa kami lakukan untuk Anda?"
"Persoalannya cukup pelik," kata Reginald Clarke. "Sebaiknya kita tidak membicarakannya di telepon. Bisakah kalian datang ke kantorku di World Studios pukup sembilan besok pagi?"
Jupiter menatap Bob dan Pete, keduanya mengangguk setuju. "Kami akan ada di sana, Mr. Clarke. Jam sembilan tepat!"
"Bagus," suara produser itu menggelegar. "Sampai jumpa."
"Sampai jumpa, sir," kata Jupiter. Ia memutuskan hubungan dan menatap Bob dan Pete. "Waduh, apa kira-kira yang akan dibicarakan oleh Mr. Clarke ya?"
"World Studios," kata Pete sambil mengangkat patung dada Alfred Hitchcock yang terbuat dari marmer dari tempat terhormatnya di atas lemari arsip. "Jangan-jangan ada hubungannya dengan Mr. Hitchcock."
"Rasanya kita harus menunggu sampai besok untuk mengetahuinya," kata Bob. "Sekarang aku sebaiknya pergi ke perpustakaan. Aku hampir terlambat dan menurut Miss Bennett setengah dari buku-buku yang ada di perpustakaan perlu dikembalikan ke raknya! Sampai jumpa besok pagi di gerbang depan."
"Sampai besok, Bob," kata Jupiter dan Pete sementara rekan mereka menghilang ke dalam Lorong Dua, sebuah tingkap di lantai yang membuka ke sebuah pipa di bawah markas.
"Ayo, Pete," Jupiter menghela nafas. "Kembali bekerja. Boleh jadi Paman Titus sedang kebingungan memikirkan ke mana kita telah menghilang."
Dengan murung Pete mengembalikan patung dada itu ke atas lemari arsip dan mematikan lampu sambil keluar.
Next Chapter

Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 02

BAB II
TANTANGAN DARI KUBUR

Keesokan paginya anak-anak itu berdiri menunggu di luar gerbang besar Jones Salvage Yard. Masing-masing telah mandi sebersih-bersihnya dan mengenakan pakaian terbagus mereka, seperti yang tiap kali mereka lakukan jika hendak mengunjungi World Studios untuk menemui Alfred Hitchcock.
"Ini dia Worthington," kata Jupiter. Worthington adalah seorang supir sempurna berkebangsaan Inggris yang bertanggung jawab atas Rolls Royce bersepuh emas yang dimenangkan Jupiter dalam suatu lomba beberapa waktu yang lalu. Berkat kedermawanan seorang klien bernama August August, mereka telah mendapatkan hak untuk menggunakan mobil mewah itu tanpa batas waktu. Mobil itu memberi kesan tersendiri setiap kali mereka mengunjungi World Studios untuk meminta Alfred Hitchcock menuliskan kata pengantar untuk sebuah kasus. Worthington menoleh di tempat duduk pengemudi ketika anak-anak itu masuk.
"Selamat pagi, Tuan-tuan," katanya. "Sebelum ini saya khawatir bahwa jasa transportasi yang saya sediakan untuk pemakaman Mr. Hitchcock akan menjadi tugas saya yang terakhir bagi Anda. Saya sangat gembira bahwa saya telah salah."
"Tidak mungkin, Worthington," kata Pete. "Bahkan sekarang kita akan pergi ke World Studios untuk mengunjungi seorang produser film yang lain."
"Bagus sekali, Master Pete," Worthington tersenyum. "Ke World Studios!"
Sebentar kemudian mobil hitam mengagumkan itu meluncur masuk melalui gerbang studio besar tersebut. Ernie, penjaga gerbang, telah mengenal mobil itu dan melambai menyilakan mereka lewat sambil tersenyum. Worthington membawa mobil itu ke sebuah kantor dengan "R. CLARKE" tertulis di pintu dengan huruf-huruf rapi.
Anak-anak keluar dari mobil dan Jupuiter mengetuk pintu, kemudian masuk. Di tempat penerima tamu duduk Henrietta Larson, sekretaris pribadi Mr. Hitchcock sebelum kepergiannya. Anak-anak itu masih ingat kesulitan yang mereka hadapi ketika mereka berusaha melewati Si Angkuh Henrietta untuk menemui Mr. Hitchcock pertama kalinya. Sekarang nampaknya ia akan menjadi sekretaris Mr. Clarke.
"Selamat pagi, Henrietta," kata Jupiter. "Mr. Clarke ada? Kami ada janji dengannya pukul sembilan."
Henrietta sedang mengeluarkan barang-barang dari sebuah kotak kecil. Jupiter dapat melihat bahwa ia baru saja memindahkan benda-benda pribadinya dari meja lamanya di kantor Mr. Hitchcock. Hal itu jelas telah membuat gadis itu merasa tertekan dan ia mengusap matanya dengan saputangan. "Ya, tentu saja," katanya terisak. "Silakan langsung masuk."
Anak-anak merasa kasihan terhadapnya. Tanpa bersuara mereka berjalan ke pintu.
"Jupiter, Peter, Robert ...," katanya.
Ketiga anak itu menoleh.
"Senang bertemu dengan kalian lagi."
Mereka tersenyum. "Senang bertemu denganmu lagi, Henrietta," kata Bob. "Kami gembira engkau sekarang bekerja untuk Mr. Clarke."
Mereka memasuki ruangan kantor yang luas itu, Reginald Clarke, produser film ternama itu, duduk di belakang sebuah meja kayu yang sangat besar. Ia sedang berbicara di telepon, maka anak-anak duduk dengan tenang dan menunggunya selesai.
Sebentar kemudian ia meletakkan telepon dan berpaling menatap mereka. "Selamat pagi, Teman-teman. Terima kasih telah datang menemuiku."
"Suatu kehormatan bagi kami, Mr. Clarke," kata Jupiter. "Apa yang bisa dilakukan Trio Detektif untuk Anda?"
"Hmmm," gumam pria bertubuh besar itu, "sebenarnya bukan apa yang bisa kalian lakukan untukku," katanya. "Lebih tepat dikatakan apa yang bisa kalian lakukan untuk Mr. Hitchcock."
Anak-anak menatapnya dengan bingung dan Mr. Clarke terkekeh.
"Tidak terlalu membingungkan sebenarnya ... paling tidak belum!" katanya. "Keluarga Mr. Hitchcock yang sebenarnya memerlukan bantuan."
"Apapun yang dapat kami lakukan, kami siap," kata Jupiter. "Hanya itulah yang dapat kami tawarkan."
Produser itu memandang mereka dengan suram dan mengangguk. "Memang kuharap kau akan berkata demikian," katanya akhirnya. "Hari ketika sahabat karibku Alfred Hitchcock meninggal adalah hari yang menyedihkan namun ialah yang tertawa paling akhir ... dari dalam kubur!"
"Waduh!" kata Pete. "Aku tidak terlalu suka mendengarnya!"
Mr. Clarke terkekeh lagi. "Kau pastilah Pete," katanya. "Meskipun ini adalah kali pertama kita bertemu, aku merasa aku telah mengenal kalian. Hitch sering berbicara tentang kalian dan beberapa kali menyinggung petualangan yang kalian bawa ke mejanya. Nah, sekarang aku punya sebuah petualangan terakhir dari mejanya jika kalian punya keberanian untuk menerimanya."
"Jika melibatkan Mr. Hitchcock, kami akan menerimanya," kata Jupiter dengan segera. "Kami berutang banyak kepadanya."
"Bagus," kata Reginald Clarke. "Dan sekarang inilah misterinya. Sebelum meninggal, Hitch telah menuliskan surat wasiatnya yang meninggalkan sebagian besar miliknya untuk keluarganya, khususnya Patricia, putri tunggalnya. Bagi Hitch keluarga selalulah yang utama dan kini mereka takkan kekurangan apa-apa lagi. Bagaimanapun, Hitch jugalah seseorang yang gemar bercanda. Menurutku, persahabatannya dengan kalian bertiga memainkan peranan besar dalam hal itu. Ia menyukai misteri. Dan semakin misterius semakin bagus kalau boleh kutambahkan! Nah, mungkin sifatnya yang gemar bercanda yang membuatnya menambahkan paragraf kecil ini pada halaman terakhir surat wasiatnya."
Mr. Clarke mendorong setumpuk kertas melintasi mejanya dan anak-anak berkerumun mendekat untuk mengamatinya. Itu adalah fotokopi dari surat wasiat Alfred Hitchcock. Mr. Clarke melanjutkan sementara anak-anak mempelajari dokumen itu.
"Aku mendapatkannya dari putri Hitch, Patricia. Ia sama sekali tidak mengerti maksudnya dan ia memintaku untuk menghubungi tiga remaja yang mengenal ayahnya dan senang menyelesaikan teka-teki. Nah, sekarang kalian ada di sini dan inilah surat wasiatnya. Ada pendapat?"
Jupiter menggaruk kepalanya dan kelihatan agak kesal. "Maaf, sir," katanya lambat-lambat. "Saya tidak yakin bagian mana yang harus kami lihat. Semua nampak seperti bahasa resmi yang digunakan para pengacara."
Reginald tersenyum dan mencondongkan badannya. Produser itu menunjuk ke sebuah paragraf pendek di bagian paling bawah surat wasiat, paragraf yang sebelumnya tidak mereka lihat. Bunyinya:
"Article 33: Skip the H20 and within my estate you�ll find the Crate that leads you to the paddy wagon. Follow the clues and pay your dues and the 2nd of 55 will reward you."
"Benda 33: langkahi H2O dan di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti yang akan membawamu ke gerobak bergembok. Ikuti petunjuk, lakukan kewajibanmu, dan yang kedua dari 55 akan memberimu penghargaan." *)
"Ya ampun!" seru Bob. "Apa maksudnya itu?"
Mata Jupiter berbinar-binar sementara ia membaca pesan aneh itu. "Sepertinya ia meninggalkan ini hanya untuk kita!" serunya. "Apakah Anda keberatan jika kami menyalinnya, Mr. Clarke?"
"Sama sekali tidak," kata sang produser dengan mata bersinar. "Aku punya perasaan kalian akan sering mengacu ke paragraf itu selama beberapa waktu setelah ini."
Bob segera mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan pensil dari saku belakangnya dan mulai menyalin pesan aneh itu. Jupiter hampir-hampir melupakan sekelilingnya karena bergairah.
"Kita bisa langsung mulai! Sudah jelas kita harus mengunjungi tanah milik Mr. Hitchcock, seperti yang dikatakan kalimat pertama. Apakah Anda tahu kediaman pribadi Mr. Hitchcock, Mr. Clarke?"
"Ya," kata produser film itu. "Bahkan aku telah memberi petunjuk arah kepada Worthington dan putri Hitch, Patricia, menunggu kedatangan kalian pada pukul setengah sepuluh."
"Waduh, lima belas menit lagi!" kata Pete. "Kita harus buru-buru!"
Anak-anak mengucapkan terima kasih kepada produser besar itu dan bergegas keluar dari kantornya. Reginald Clarke hanya dapat tersenyum. Ia merasa akan sering melihat Trio Detektif untuk beberapa waktu selanjutnya.
Next Chapter

Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 03

BAB III
LANGKAHI H2O

Limat menit sebelum waktu yang telah ditentukan Worthington mengemudikan Rolls Royce melewati jalan masuk dengan batu bata sebagai pembatasnya, menuju sebuah rumah sederhana dengan gaya peternakan. Tanaman yang terawat rapi mengelilingi rumah itu dan pohon-pohon pisang berdaun lebat serta bunga mawar menghiasi bagian tengah jalan masuk yang melingkar.
"Wah, jelas tidak seperti yang kubayangkan," kata Pete. "Kubayangkan Mr. Hitchcock tinggal di suatu tempat yang lebih misterius."
Jupiter setuju dengannya. "Kuakui bukan tempat seperti ini yang dalam benakku akan dipilih oleh seorang raja kengerian sebagai tempat tinggal. Sepertinya di luar studio ia hidup normal seperti orang-orang lain."
Trio Detektif keluar dari mobil dan membunyikan bel rumah yang dulu ditinggali Alfred Hitchcock. Pintu dibuka dengan segera oleh seorang wanita separuh baya yang masih nampak cantik dan, cukup mengejutkan bagi anak-anak itu, sangat mirip dengan sang sutradara. Wanita itu mengenakan baju sederhana bermotif bunga dan seuntai kalung mutiara dan matanya yang berwarna biru terang nampak semakin terang sebagai efek dari rambut merahnya yang tertata rapi.
"Miss Hitchcock kalau saya tidak salah?" kata Jupiter.
"Tepatnya Mrs. O'Connell sekarang," kata wanita itu sambil tersenyum hangat. "Tapi kalian boleh memanggilku Patricia. Dan kau pastilah Jupiter, Pete, dan Bob. Ayah sering membicarakan kalian ... sungguh menyenangkan akhirnya kita dapat bertatap muka. Silakan masuk."
Anak-anak berterima kasih dan masuk ke sebuah ruangan bercahaya remang-remang yang begitu penuh dengan foto sehingga mereka hampir-hampir tidak dapat melihat dindingnya. Ada foto-foto Alfred Hitchcock di lokasi pengambilan film, foto-foto keluarganya, foto-fotonya bersama para bintang film. Bahkan ada foto Mr. Hitchcock yang masih sangat muda berjabatan tangan dengan Stephen Terrill, seorang aktor dari era film bisu yang pernah ditemui anak-anak ketika mereka mengungkap Misteri Puri Setan! Sebagian besar dari foto-foto berbingkai itu dibubuhi tanda tangan dengan beberapa kalimat terima kasih kepada sang sutradara besar.
"Ayah begitu mencintai film," kata Patricia dengan bangga. "Itulah seluruh hidupnya. Ia tidak pernah nampak lebih bergairah daripada ketika ia sedang menakut-nakuti orang dengan salah satu filmnya." Ia memandang dinding penuh foto itu dengan sedih selama beberapa saat, kemudian menggeleng. "Sungguh berat bagi kami sejak kepergiannya. Dan kini dengan teka-teki yang ditulisnya di surat wasiat ... tidak seorang pun dapat berpikir jernih di tengah segala kesibukan untuk pemakamannya. Terus terang, aku tidak tahu apa yang Ayah coba katakan. Aku sungguh berharap kalian dapat menolong."
"Sudah pasti kami akan berusaha semampu kami, ma'am," kata Jupiter meyakinkan. "Jika Anda tidak keberatan, kami ingin segera mulai."
"Tentu saja, Anak-anak," wanita itu tersenyum. "Kalian punya salinan surat wasiat itu?"
Jupiter mengangguk. "Bob telah menyalin bagian yang kami perlukan," katanya. "Mari kita lihat apa bunyinya, Data."
Bob mengeluarkan buku catatannya dari saku belakang dan membalik-balik halaman sampai menemukan pesan misterius itu. Mereka semua membacanya dengan cermat.
"Article 33: Skip the H20 and within my estate you’ll find the Crate that leads you to the paddy wagon. Follow the clues and pay your dues and the 2nd of 55 will reward you."
"Benda 33: langkahi H2O dan di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti yang akan membawamu ke gerobak bergembok. Ikuti petunjuk, lakukan kewajibanmu, dan yang kedua dari 55 akan memberimu penghargaan."
"Demi belalang!" seru Pete. "Sepertinya setiap kali kubaca, semakin aneh!"
"Menurutku kita bisa mengasumsikan dengan aman bahwa pikiran Mr. Hitchcock masih normal menjelang kepergiannya," kata Jupiter. "Seandainya ini hanyalah igauan seseorang yang tidak waras lagi, ia cukup mengatakannya saja. Tapi bersusah payah menuliskannya di dalam surat wasiat ... ia pasti punya suatu permainan dalam pikirannya."
"Memang seperti Ayah," kata Patricia. Ia duduk di sofa dan mengusap keningnya seolah-olah merasa pening. "Memang hal seperti inilah yang kuduga akan dilakukannya. Pasti sekarang ia sedang tertawa di dalam kuburnya menyaksikan kebingungan kita."
"Langkahi H2O," kata Jupiter kepada dirinya sendiri. "H2O adalah air tapi aku tidak yakin apa maksudnya di sini. Bagaimanapun, 'di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti' nampak cukup jelas. Maksudnya 'di rumahku kau akan menemukan sebuah kotak.' Meskipun kita masih harus memikirkan apa yang dimaksud dengan 'gerobak bergembok' dalam teka-teki ini."
"Apa itu gerobak bergembok?" tanya Pete.
Sebuah suara dengan aksen Inggris yang jelas berbicara dari ujung ruangan. "Itu adalah sebuah istilah kuno untuk sebuah kendaraan berterali yang digunakan polisi untuk membawa para tahanan." Anak-anak menoleh dan melihat seorang anak lelaki yang tinggi dan berambut hitam, kira-kira berumur tujuh belas tahun, masuk ke dalam ruangan.
Patricia berdiri dan memeluk remaja itu. "Benjamin!" katanya. "Aku sungguh gembira kau datang. Anak-anak, ini keponakanku Benjamin Hitchcock. Ia datang jauh-jauh dari Inggris untuk menghadiri pemakaman kakeknya."
"Apa kabar?" katanya sopan. "Panggil saja Ben. Sekarang ... apa maksudnya semua ini?"
Jupiter berdiri tegak dan nampak sangat serius -- seperti yang selalu dilakukannya jika ia ingin dianggap serius. "Kami telah disewa oleh bibimu untuk mengungkap sebuah teka-teki yang ditinggalkan kakekmu di dalam surat wasiatnya," ia menjelaskan dengan sikapnya yang paling profesional.
"Disewa?" kata Ben. "Aku kurang mengerti maksudmu."
Jupiter mengeluarkan sebuah kartu nama berukuran besar yang dicetaknya menggunakan mesin cetak tua yang ada di pangkalan. Anak-anak tidak pernah bepergian tanpa membawa kartu nama itu. Bunyinya:
TRIO DETEKTIF
                 "Kami Menyelidiki Apa Saja"
                            ? ? ?

          Penyelidik Pertama...........Jupiter Jones
          Penyelidik Kedua............Peter Crenshaw
          Catatan dan Riset..............Bob Andrews
Beb Hitchcock mengamati kartu nama itu, membolak-baliknya di tangannya. "Bolehkah aku bertanya apa maksud ketiga tanda tanya ini?" tanyanya.
Pete dan Bob saling menyeringai. Semua orang pasti bertanya apa maksud tanda tanya itu. Itu adalah ide Jupe untuk membantu orang-orang mengingat nama Trio Detektif.
"Ketiga tanda tanya itu mewakili misteri yang tak terpecahkan, pertanyaan yang tak terjawab, dan keanehan apapun," kata Jupiter Jones, "yang kami berusaha selesaikan. Karena itu, tanda tanya adalah lambang kami. Seperti kau lihat, semboyan kami adalah 'Kami Menyelidiki Apa Saja.' Saat ini kami sedang menyelidiki sebuah paragraf misterius di dalam surat wasiat kakekmu. Ini dia ...." Ia menyerahkan buku catatan Bob kepada Ben, yang membacanya sambil berkerut.
"Wah! Apa pula maksudnya ini?" serunya. "Nampaknya sama sekali tak bermakna!"
"Mungkin kau bisa membantu kami mengetahui maknanya, Ben," kata Jupiter. "Seperti yang kukatakan tadi, baris pertama nampak cukup jelas ... selain bagian 'langkahi H2O'. Pasti ada semacam kotak atau peti yang tersembunyi di rumah ini atau di halaman. Kemungkinan sesuatu yang mengambang."
"Wah, Jupe," kata Bob, "itu tidak terlalu spesifik. Bagaimana kita tahu kalau kita telah menemukannya?"
Jupe mencubiti bibir bawahnya dengan ibu jari dan telunjuknya -- suatu kebiasaannya yang menandakan ia sedang menyuruh otaknya bekerja keras. "Dugaanku itu pastilah sebuah kotak khusus, sesuatu yang nampak janggal dibandingkan bagian rumah ini yang lain. Patricia, apakah Anda tahu adanya kotak yang mungkin dimaksud dalam teka-teki ini?"
"Maaf, Jupiter," katanya menggeleng. "Aku tidak yakin apa saja yang diletakkan ayahku di sekitar rumah ini. Mungkin kita akan tahu saat kita melihatnya."
"Saya rasa demikian," kata Jupiter setuju. "Bagaimanapun, mari kita berpencar dan mulai mencari. Pete dan Ben, kalian mencari di lantai ini. Bob dan Patricia, kalian mencari di lantai bawah. Aku akan mencari di luar dan di garasi. Kalau kalian melihat sesuatu yang nampak seperti peti yang kita cari, bawalah masuk ke ruang tamu dan letakkan di atas meja. Kita bertemu lagi di sini dalam sejam."
Maka regu pencari pun berpencar. Mereka mencari di bawah bantal-bantal, di belakang foto-foto, di lemari-lemari. Bob dan Patricia menurunkan buku-buku dari raknya dan menggeledah laci-laci meja. Pete dan Ben mencari di setiap jengkal lantai, bahkan mengintip ke dalam perapian dan di loteng kecil yang berfungsi sebagai gudang. Akhirnya satu jam telah berlalu dan mereka berkumpul kembali di ruang tamu. Jupiter masuk melalui pintu sorong, nampak kecewa dan kotor, dan jelas-jelas kesal karena tidak ada kotak apapun di atas meja.
"Aku mencari di seluruh halaman dan di garasi," katanya tersengal-sengal, menjatuhkan diri di sofa. "Jika memang ada kotak di luar sana, pastilah terkubur di bawah tanah." Kegiatan fisik bukanlah pilihan utama Jupiter. Remaja gempal itu lebih memilih mengasah otaknya daripada badannya.
"Waduh!" seru Pete. "Kau kan tidak berpikir Mr. Hitchcock benar-benar mengubur harta di halaman luar sana, Pertama?"
Jupiter menggenggam buku catatan yang berisi pesan aneh itu di depan badannya dan berdiri, berjalan mondar-mandir. "Tidak," katanya kemudian, "sepertinya tidak tersirat apapun tentang sesuatu yang terkubur."
"Mungkin bagian 'langkahi H2O' adalah petunjuk di mana kita akan menemukan kotak itu," usul Bob.
"Deduksi yang bagus sekali, Data," kata Jupiter tegas -- ia sendiri baru hendak mengatakan hal yang sama. "Kurasa kita harus memecahkan bagian itu dahulu sebelum melanjutkan."
"Mungkin maksudnya melangkahi sebongkah batu," usul Ben. "Kalian tahu, seperti yang ada di kolam."
"Yah," kata Pete. "Kolam adalah H2O! Apakah ada semacam kolam di sini, Patricia?"
"Setahuku tidak," katanya. "Meskipun di belakang rumah ini ada sebuah lapangan golf. Pasti ada semacam kolam penghalang di sana ... meskipun demikian aku tidak pernah tahu Ayah bermain golf atau olahraga lainnya, jadi sepertinya tidak mungkin."
Jupiter setuju dengannya. "Tidak, aku yakin maksudnya pasti sesuatu yang berkenaan dengan air di tanah miliknya." Ia mulai berjalan mondar-mandir lagi dan ruangan itu menjadi hening sementara mereka masing-masing berusaha menduga apa yang dimaksud dengan 'langkahi H2O'.
Sekonyong-konyong mata Jupiter berbinar-binar dan ia menepuk dahinya sendiri dengan telapak tangan. "Tentu saja!" serunya. "Patricia, apakah ayah Anda memiliki tanah lagi selain rumah ini? Lebih khusus lagi, apakah ia memiliki tempat tinggal di sebuah negara lain?"
Patricia berpikir sejenak namun kemudian Ben berseru. "Ya ampun! Paman Alfred memiliki sebuah rumah musim panas di Inggris, ingat, Bibi Patty? Tempat ia dan Bibi Alma berlibur kadang-kadang!"
"Oh, tentu saja!" seru wanita itu. "Ben benar! Ayah memang memiliki sebuah rumah di luar London. Aku sama sekali lupa!"
"Apa artinya itu berkaitan dengan teka-teki ini, Jupe?" tanya Bob.
Jupiter nampak penuh kemenangan. "Apa maksudnya 'skip' -- 'melangkahi' sesuatu?" tanyanya.
"Menyeberangi ... atau mungkin melintasi," jawab Pete.
"Dan apakah H2O?" tanya Jupiter berbangga hati.
"Air!" seru Bob. "Seberangi air! Itulah maksud bagian pertama teka-teki itu! Seberangi air ... maksudnya lautan ... dan di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti!"
"Ben, berapa lama lagi kau akan pulang ke Inggris?" tanya Jupiter cepat.
"Dua hari lagi," jawab remaja Inggris itu. "Begitu urusan resmi Bibi Patty telah beres."
"Jupe, apakah kau memikirkan yang kupikir kau pikirkan?" tanya Pete.
"Apa yang kau pikirkan, Jupiter?" tanya Patricia Hitchcock O'Connell.
"Trio Detektif akan meneruskan penyelidikan ini ke seberang Samudra Atlantik," jawab remaja gempal itu. "Di sanalah harta itu tersembunyi dan ke sanalah kita harus pergi!"
"Tapi bagaimana dengan orangtua kalian?" kata Patricia. "Jelas kalian tidak bisa pergi ke Inggris sendirian!"
"Kami tidak akan sendirian," kata Bob. "Kami akan bersama Ben! Di samping itu, sekarang kami sedang di tengah liburan musim panas. Saya yakin orangtua kami akan setuju jika kami katakan bahwa kami sedang membantu keluarga Mr. Hitchcock!"
Patricia memikirkan hal ini sejenak. "Jika kalian mendapatkan izin dari orangtua kalian," katanya, "aku akan membayar ongkos perjalanan kalian dan bertindak sebagai pengawas selama kalian di luar negeri."
Jupiter mengangkat tangan dan menggelengkan kepala. "Kami tidak dapat membiarkan Anda melakukan itu," katanya. "Tiket pesawat ke Inggris akan sangat mahal. Dengan tabungan hasil kami bekerja di pangkalan, hanya seorang dari kami dapat pergi."
"Aku memaksa!" kata wanita itu keras kepala. "Jika ini adalah rencana Ayah, maka seluruh Trio Detektif akan pergi! Lagipula uang tidak akan menjadi masalah dengan warisan yang ditinggalkannya untukku."
Jupiter memandang Ben seolah-olah meminta pertolongan namun remaja jangkung itu hanya melipat tangan di depan dada tanda setuju dengan bibinya.
Akhirnya detektif gempal itu memandang Bob dan Pete, lalu mengangkat bahu. "Baiklah," senyumnya, "mari kita minta izin!"
Anak-anak dan Ben bergegas menuju pintu dan Rolls Royce yang telah menunggu. Ketika mereka masuk ke bagian dalam mobil yang mewah itu, Jupiter berbicara. "Wah, Ben," katanya, "kalau bibimu Patricia telah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya! Sungguh mudah untuk melihat bahwa ia benar-benar mirip ayahnya ... Alfred Hitchcock!"
Next Chapter

Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 04

BAB IV
TRIO DETEKTIF DI INGGRIS

Dua hari kemudian pesawat Trio Detektif melakukan pendaratan di Bandara Heathrow, London. Anak-anak dengan mudah memperoleh izin dari orangtua mereka begitu mereka menjelaskan bahwa mereka sedang menolong putri Alfred Hitchcock. Tidak ada kejadian menarik selama penerbangan, selain goncangan kecil akibat badai yang mendekati London, yang hampir saja membuat Pete mabuk udara. Akhirnya pesawat itu mendarat dan mereka berlima masuk ke sebuah limousine yang sudah menanti, mengobrol penuh semangat.
Ben Hitchcock sudah tidak sabar menunjukkan kota bersejarah itu dengan segala atraksinya kepada Trio Detektif.
"Apakah sebaiknya kita menghabiskan hari ini melihat-lihat kota, Teman-teman?" ia bertanya kepada teman-teman barunya dengan bergairah.
"Sudah lama aku ingin melihat Menara London!" seru Bob.
"Aku ingin melihat Big Ben!" seru Pete.
"Aku ingin melihat tempat tinggal kedua Mr. Hitchcock yang berada di luar London," kata Jupe tegas. "Kita akan punya waktu untuk melihat-lihat begitu kita telah berhasil memecahkan teka-teki ini. Kita hanya ada di sini seminggu, jadi mari kita manfaatkan sebaik-baiknya."
Pete menyikut Ben. "Biasakan kalah suara dari Jupe," katanya. "Aku dan Bob selalu mengalaminya!"
"Jadi begitulah demokrasi yang sebenarnya di Amerika," canda Ben.
Anak-anak dan Patricia tertawa sementara limousine meluncur masuk ke kabut London yang dingin.
Satu jam kemudian mobil itu telah keluar dari kota yang sibuk itu tepat ketika matahari mulai terbenam. Dengan cahaya kilat yang sebentar-sebentar menyambar anak-anak dapat melihat bahwa mereka telah memasuki suatu jalan pedesaan dengan rumah-rumah sederhana. Kebisingan kota telah digantikan oleh suasana yang lebih asri dan tenang.
"Sungguh aneh rasanya berjalan di sisi yang salah dari jalan," kata Pete.
"Itulah yang kurasakan ketika berada di negaramu," kata Ben. "Di sini sisi kiri -- the left side -- adalah sisi yang benar -- the right side."
"Rumah musim panas Ayah ada di jalan ini juga," kata Patricia. "Tidak akan lama lagi."
Limousine berbelok memasuki sebuah jalan tanah yang sempit dan dijaga oleh semak-semak yang terpangkas rapi dalam wujud singa. Ketika mereka mendekati rumah itu, Pete menahan nafas.
"Nah, inilah yang ada di bayanganku tentang rumah Mr. Hitchcock!" serunya.
Jupe dan Bob berdesakan melihat melalui jendela di sebelah Pete. Rumah di depan mereka sebenarnya sama sekali tidak seperti rumah ... jauh lebih menyerupai sebuah puri! Dinding-dindingnya yang tinggi tersusun dari batu-batu halus berwarna abu-abu dan tertutup tumbuhan merambat yang tebal. Jendela-jendelanya merupakan mosaik yang nampak seolah-olah berasal dari sebuah gereja kuno berabad-abad yang lalu. Di bawah langit yang berwarna ungu suram dan di tengah kabut yang bergulung-gulung mudah saja bagi anak-anak untuk membayangkan segala macam hantu dan roh yang berkeliaran di balik dinding-dinding rumah besar itu.
"Jupe, Pete, Bob ... selamat datang di Puri Hitchcock," Ben menyeringai.
"Aku lebih suka kediamannya yang satu lagi," Pete menggigil. "Yang ini memberiku kesan seram!" Di kejauhan kilat menyambar seolah-olah setuju dengan Penyelidik Kedua.
Patricia menepuk bahu Pete sementara mereka keluar dari mobil. "Ayah selalu berkata bahwa rumah ini berhantu namun sebenarnya tidak seburuk kelihatannya," katanya menenangkan. "Di dalam sebenarnya cukup nyaman. Lihat saja nanti."
"Rumah ini memang berhantu!" sebuah suara dengan aksen Inggris yang kental menggeram di tengah kegelapan.
"Siapa itu?" Patricia yang kaget berseru. "Winston, kaukah itu?"
Dari sudut rumah muncul seorang pria kira-kira berumur lima puluh tahun dengan kumis lebat, berjalan terpincang-pincang. Ia mengenakan semacam topi tak berbentuk di kepalanya dan menggenggam sebatang tongkat berliku di tangan kanannya. Cambangnya lebat dan menyatu dengan berewok tipis hitam beruban yang menutupi wajahnya. Ia menuding dengan tongkatnya ke arah mereka.
"Rumah ini memang berhantu! Arwah Molly Thibidoux, seorang pelayan yang menggantung diri dari pohon willow besar di belakang rumah, lebih dari seratus tahun yang lalu," katanya serak. "Tunangannya meninggalkannya demi seorang wanita lain. Karena sedih Molly muda bunuh diri. Sekarang arwahnya berkeliaran di dinding-dinding Puri Hitchcock, menunggu tunangannya kembali ke pelukannya!"
"Jebediah O' Connell!" tukas Patricia. "Hentikan omong kosong itu sekarang! Begitukah caramu menyambut tamu-tamu kita?"
"Tentu saja aku akan menyambut tamu kita," Jebediah O'Connell mencibir, "namun demi keselamatan mereka sendiri aku memperingatkan mereka tentang hantu itu! Ia adalah yang berbahaya! Orang Jerman menyebutnya poltergeist -- hantu yang suka membuat keributan!"
Patricia menoleh ke arah anak-anak sambil bertolak pinggang. "Jangan pedulikan sepupuku Jeb," perintahnya. "Ia adalah pembuat onar nomor satu dan hanya berusaha menakut-nakuti kalian ... ia tidak suka akan anak-anak."
"Ini kataku," bisik Ben kepada Jupiter. "Sejujurnya aku tidak mempercayai Paman Jeb. Ingat kata-kataku ini, ia punya maksud tidak baik!"
"Mari, Anak-anak," kata Patricia, "masukkan barang-barang kalian."
"Gagasan yang baik," kata Jupe setuju. "Saya berharap bisa ada kemajuan dalam teka-teki ayah Anda sebelum kita tidur."
"Ah, teka-teki yang kocak," kata Jebediah sambil mengikuti mereka ke dalam. Lelaki aneh itu menutup pintu oak besar di belakang mereka, menimbulkan bunyi gemuruh yang membuat mereka semua terlompat. "Kita sebaiknya memberi tahu arwah itu bahwa kalian ada di sini," ia menyeringai licik.
Patricia menatap sepupunya dengan marah. "Cukup sudah, Jebediah! Kau tidak pernah tahu kapan kau telah melampaui batas."
Jeb mengangkat bahu, memasukkan tangannya ke dalam saku, dan terpincang-pincang menaiki tangga. "Aku akan ada di kamar seandainya kalian nanti terbangun oleh sesuatu," gumamnya. "Hidup atau mati!"
"Maaf, Anak-anak," kata Patricia.
"Tidak perlu minta maaf, ma'am," jawab Jupiter. "Kami juga tidak percaya akan hantu, benar kan, Teman-teman?"
"Jupe benar," kata Bob tersenyum. "Kami tidak semudah itu ditakut-takuti ... benar kan, Pete?"
"Apa katamu lah," kata Pete, suaranya gemetar. "Mungkin aku takkan bisa tidur sampai kita ada di pesawat lagi!"
"Ah, tidur," kata Ben mengantuk. "Entahlah dengan kalian, Teman-teman, namun aku benar-benar lelah."
"Jet-lag," kata Jupiter sambil menguap. "Perubahan wilayah waktu telah membuat pola tidur kita berantakan. Sekarang baru setengah sembilan namun kurasa kita harus menunggu hingga besok untuk mencari tahu apa yang dimaksud oleh baris berikutnya dalam teka-teki," katanya enggan. "Ayo, Teman-teman, kita tidur."
Anak-anak dan Ben meraih bawaan masing-masing dan berbaris menaiki tangga lebar yang diterangi cahaya samar-samar. Mereka baru separuh jalan ketika sebuah teriakan membuat mereka berhenti seketika.
"Seperti suara Jebediah!" seru Ben.
Anak-anak menjatuhkan tas-tas mereka dan berlari ke lantai dua, diikuti oleh Patricia.
Di tengah-tengah tangga antara lantai dua dan tiga mereka menemukan Jebediah O'Connell terduduk. Kilat menyambar dan pria itu meringkuk seperti anak kecil.
"Hantu!" katanya tersengal-sengal, menunjuk dengan jari gemetar ke tangga gelap yang menuju ke lantai tiga. "Aku melihat hantu itu di atas tangga ini ... berpendar di kegelapan dengan seutas tali di lehernya!"
Patricia nampak sangat marah. "Sepupu, jika ini adalah semacam permainan ...."
"Bukan, Sepupu Patty!" tukasnya, menuding ke atas lagi. "Aku benar-benar melihatnya!"
"Ada apa di lantai tiga, ma'am?" tanya Jupiter kepada Patricia.
"Orangtuaku jarang naik ke lantai tiga," kata wanita itu. "Hanya untuk tempat menyimpan barang. Bahkan tidak ada pemanas di atas sana." Ia mencoba saklar lampu di dasar tangga namun tangga besar itu tetap gelap. "Rusak. Mungkin bola lampu di atas tidak pernah diganti selama bertahun-tahun."
"Anda punya senter?" tanya Jupiter, naik beberapa anak tangga menuju ke kegelapan.
"Akan kuambilkan," Ben menawarkan diri. Remaja itu berlari menuruni tangga. Mereka mendengar pintu lemari dibuka dan ditutup di dapur dan kemudian langkah-langkah berlari menaiki tangga. "Aku cuma menemukan satu," katanya sambil menyerahkan senter kepada Jupiter. "Tapi ini ada beberapa batang lilin."
Mereka menyalakan lilin dan, dengan Jupiter memimpin di depan, maju menaiki anak tangga yang berderit. Di luar kilat dan guruh menyambar dan menggelegar, membuat mereka tidak ingin jauh-jauh dari yang lain.
Setengah jam kemudian mereka telah memeriksa lantai tiga dengan seksama dan tidak menemukan apa-apa selain kotak-kotak berdebu dan peti-peti bersarang laba-laba. Mereka memeriksa peti-peti itu untuk memastikan tidak ada yang bersembunyi di dalam namun peti-peti itu terkunci atau berisi pakaian.
"Jika tadi ada yang menaiki tangga, ia pastilah masih di sini," kata Bob. "Karena tidak ada jalan keluar lain selain melalui tangga."
"Kecuali kalau ia adalah hantu!" kata Pete.
"Ya," kata Jebediah setuju. "Seperti yang kukatakan tadi!"
"Tidak ada yang namanya hantu," kata Jupiter keras kepala. "Pastilah ada jalan keluar lain di sini. Suatu jalan rahasia. Ben, Patricia, kalian tahu akan adanya jalan rahasia di rumah ini?"
"Aku tahu ada beberapa," kata Patricia. "Dulu aku sering bermain dengan jalan-jalan rahasia itu ketika masih kecil. Tapi itu sudah demikian lama, aku bahkan tidak bisa mengingat lagi letaknya. Kita harus bertanya kepada Julia, pelayan Ayah. Ia sudah bekerja di sini selama hampir tiga puluh tahun. Jika memang ada jalan rahasia di lantai ini, ia tentunya tahu."
"Besok pagi-pagi kita tanya dia," kata Jupiter memutuskan. "Sekarang mari benar-benar tidur. Aku sudah tidak kuat lagi menahan kantuk!"
"Siapa yang mengantuk?" kata Pete. "Kurasa meskipun aku ingin, aku takkan bisa tidur!"
Namun Pete salah. Begitu kepala mereka menyentuh bantal, dengan cepat mereka terlelap.
Next Chapter

Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 05

BAB V
DI MANA PETI ITU?

Keesokan paginya anak-anak terbangun oleh bau harum telur dan daging goreng. Mereka cepat-cepat berpakaian dan turun ke dapur. Ben dan Patricia sudah mulai makan di sana.
"Selamat pagi!" kata Ben riang. "Sepertinya kalian tidur nyenyak. Tidak bermimpi buruk kuharap, Pete."
"Hanya satu ... tentang sarapan sudah dibereskan sebelum aku bangun!" Penyelidik Dua yang jangkung tertawa.
Seorang wanita gemuk dengan raut wajah tegas dan seragam pelayan meletakkan sepiring telur dan menuangkan jus jeruk ke dalam gelas-gelas tinggi di hadapan mereka.
"Anak-anak, perkenalkan Julia Abernathy," kata Patricia. "Ia telah bekerja untuk ayahku selama hampir tiga puluh tahun. Suaminya, Winston, adalah kepala pelayan kami. Mereka menikah tahun lalu, di rumah ini juga."
"Benar," kata Julia muram. "Sungguh menyedihkan hari ketika Mr. Hitchcock meninggal dunia. Winston bahkan tidak sempat bertemu dengannya. Dan kini masa depan kami di rumah ini tidak jelas." Ia berdiri diam selama beberapa saat, mengaitkan jari-jarinya, lalu kembali ke dekat kompor.
"Rumah ini akan dijual sebulan lagi," kata Patricia menjelaskan dengan pelan. "Kami dengan senang hati akan mempertahankan Keluarga Abernathy sebagai bagian dari tanah ini namun kami tidak dapat menjanjikan pemilik baru yang belum memiliki pelayan. Julia tinggal di pondok pelayan di belakang sejak ayahku membeli puri ini."
Tepat pada saat itu seorang pria jangkung dengan jas hitam memasuki ruangan. Wajahnya tirus dan hidung bengkok seperti elang. Rambutnya mulai beruban dan bagian atas kepalanya botak sama sekali. Ia membungkuk ke arah anak-anak dan kemudian tersenyum hangat.
"Selamat pagi, Tuan-tuan," katanya dengan logat Inggris yang terpelajar. "Nama saya Winston dan saya siap melayani Anda selama Anda tinggal di Puri Hitchcock."
"Selamat pagi, Winston," jawab Jupiter. "Kau baik sekali. Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja, sir," jawab Winston.
"Apakah kau tahu tentang adanya jalan rahasia di lantai tiga rumah ini? Mungkin dinding atau pintu palsu?"
Kepala pelayan itu menegakkan tubuhnya seolah-olah bersiap memberikan kuliah yang dihapalnya dan telah dilakukannya beratus-ratus kali sebelumnya. "Setiap lantai memiliki sebuah kamar tersembunyi," katanya menjelaskan. "Rancangan rumah ini mengikuti sebuah puri tua tempat sang raja memiliki ruangan rahasia untuk bersembunyi jika sewaktu-waktu mereka diserang. Sang raja ingin memastikan bahwa di lantai mana pun keluarganya berada, mereka akan memiliki tempat berlindung yang aman untuk bersembunyi dari musuh. Meskipun demikian, setahu saya tidak ada ruangan rahasia di lantai tiga. Satu-satunya yang menghubungkannya dengan lantai yang lain, selain tangga, adalah lubang makanan, yang digunakan untuk mengangkat makanan dari dapur dan menurunkan piring-piring kotor."
"Begitu," kata Jupiter Jones.
"Ada lagi, sir?" tanya sang kepala pelayan.
"Satu hal lagi," kata Penyelidik Pertama. "Sejak kau mulai bekerja di Puri Hitchcock, pernahkah kau melihat penampakan apapun atau hantu di rumah ini?"
"Anda pasti mengacu ke Molly Thibidoux, pelayan Prancis malang yang menggantung diri di sebatang pohon," Winston tertawa riang. "Demi Tuhan, tidak. Itu hanyalah sebuah cerita tua, diceritakan untuk membangun suasana rumah ini, seperti yang dilakukan Mr. Hitchcock dalam film-filmnya."
Jupiter baru hendak menanyai Julia kalau wanita itu pernah melihat hantu di Puri Hitchcock ketika ia dipotong oleh suara pertengkaran yang terdengar mendekati dapur.
"Demi Tuhan!" kata Patricia. "Aku sama sekali lupa akan Keluarga Fitchhorns!"
"Siapa?" tanya Pete.
"Kalian pasti belum pernah bertemu dengan orang seperti Timothy dan Stella Fitchhorn," kata Ben. "Mereka mengaku sebagai saudara jauh Bibi Patty dan datang dari Skotlandia untuk menuntut bagian mereka atas harta itu."
Jupiter, Pete, dan Bob memandang dengan mata terbelalak ke arah Keluarga Fitchhorn yang membawa pertengkaran mereka masuk ke dapur.
Timothy Fitchhorn adalah seorang pria yang gemuk dan tak henti-hentinya berkeringat. Matanya berbinar-binar di balik kacamata berbingkai gading. Berulang kali rambutnya jatuh menutupi matanya dan berulang kali ia mendorongnya kembali ke atas. Ia mengenakan jas bergaris-garis yang terlalu sempit dan celana panjang yang terlalu pendek.
Di mata anak-anak, pria itu benar-benar kebalikan dari istrinya yang tak henti-hentinya mengeluh. Stella Fitchhorn mengenakan jas bergaris-garis yang identik dengan suaminya -- meskipun dengan ukuran yang pas. Stella adalah seorang wanita bertubuh pendek -- lebih pendek daripada anak-anak -- dan kurus sekali.
"Tidak pernah!" jeritnya.
"Kau selalu mempermasalahkan caraku mengemudi!" teriak suaminya, tidak menyadari kehadiran anak-anak di meja. "Bukan salahku mereka berjalan di sisi yang salah di negeri ini."
Stella Fitchhorn sudah siap untuk membalas ketika ia menyadari orang-orang yang duduk di meja. "Oh," katanya. "Patricia, senang bertemu denganmu lagi. Dan kau juga, Ben!" Namun ketika melihat Trio Detektif ia nampak bingung. "Tapi siapa anak-anak ini?"
"Pemburu uang pasti," tuduh Mr. Fitchhorn. "Aku berhak atas bagianku dan apapun yang terjadi aku akan mendapatkannya!" katanya tegas.
Jupiter, yang melihat emosi Patricia nyaris meledak, bergegas mengambil alih. "Yakinlah bahwa kami bukanlah pemburu uang," katanya. "Kami adalah teman-teman Ben dari Amerika yang sedang berlibur di sini. Dari Rocky Beach, California, tepatnya. Saya dengar kalian datang dari Skotlandia," katanya tenang, "bolehkah saya tahu dari daerah mana?"
"Chestershire," kata Timothy Fitchhorn.
"Braxton," kata Stella Fitchhorn pada saat yang sama. Mereka saling berpandangan dan Stella terbatuk. "Maksudnya kami tinggal di Braxton sebelum pindah ke Chestershire, benar kan, Sayang?"
"Benar," kata suaminya. "Bagaimanapun," katanya sambil mendorong rambutnya yang berminyak kembali ke tempatnya, "aku punya hak secara hukum atas harta yang ditemukan di tanah ini selagi kalian ada di sini. Tidak ada peraturan 'hak milik yang menemukan' di negara ini."
"Maksud Anda, ada harta karun terkubur di tanah ini?" tanya Bob polos. "Waduh, kita harus mulai menggali, Teman-teman!"
"Ya," sambut Pete, berusaha menyembunyikan senyum. "Kau punya sekop, Ben?"
Timothy Fitchhorn nampak seolah-olah siap meledak. Ia mengusap alisnya dengan saputangan dan menatap marah ke arah anak-anak. "Dengar!" katanya. Namun anak-anak tidak mendengarkan. Mereka permisi dari meja dan berlari keluar dapur, berusaha keras untuk tidak tertawa terbahak-bahak.
"Gurauan yang sungguh kejam, Bob," Jupiter tertawa sementara anak-anak berlari menuju ruang tamu yang besar.
"Tapi sungguh perlu!" Ben terkekeh. "Kita harus hati-hati akan perburuan harta karun kita dengan adanya kedua orang itu."
"Sudah jelas!" kata Pete. "Jadi di mana menurutmu kita harus mulai mencari harta itu, Pertama?" ia bertanya kepada Jupiter.
Jupiter segera berubah serius. Ia mencubit bibir bawahnya dan berpikir sejenak. "Kita telah sepakat bahwa kita harus menemukan semacam peti," katanya. "Namun mari kita baca petunjuk itu sekali lagi, siapa tahu kita mendapat ide baru."
Bob mengeluarkan buku catatannya dan membuka halaman yang berisi teka-teki itu. Anak-anak itu berkerumun untuk membaca paragraf aneh itu sekali lagi.
"Article 33: Skip the H20 and within my estate you�ll find the Crate that leads you to the paddy wagon. Follow the clues and pay your dues and the 2nd of 55 will reward you."
"Benda 33: langkahi H2O dan di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti yang akan membawamu ke gerobak bergembok. Ikuti petunjuk, lakukan kewajibanmu, dan yang kedua dari 55 akan memberimu penghargaan."
"Kalian tahu, selama ini aku berpikir-pikir," kata Bob. "Mungkin yang kita cari sebenarnya sama sekali bukan sebuah peti."
"Apa maksudmu, Data?" tanya Jupiter sambil membaca paragraf itu lagi.
Bob Andrews menggaruk kepala dan kembali membaca petunjuk itu. "Aku bertanya-tanya -- mengapa kata 'peti' -- Crate -- ditulis dengan huruf C besar," katanya. "Kata-kata yang lain ditulis biasa saja namun kata yang satu ini diawali dengan huruf besar seolah-olah merupakan nama sesuatu."
"Mungkin kita harus mencari sesuatu di rumah ini dengan tulisan 'Crate' di atasnya," usul Pete. "Atau seseorang bernama Crate."
Jupiter kembali mencubiti bibirnya. "Jika kita harus mencari seseorang, teka-teki itu akan berbunyi 'find Crate'. Namun jelas-jelas tertulis 'find THE Crate'."
"Kecuali kalau kakekku sengaja melakukannya, hanya untuk membingungkan kita," kata Ben.
"Mungkin saja," kata Jupiter mengakui. "Apakah kau atau bibimu Patricia mengenal salah seorang teman Mr. Hitchcock yang bernama Crate?"
Ben menggeleng. "Aku harus bertanya kepada Bibi Patty," katanya. "Namun jika ia adalah seseorang yang dikenal kakekku dari dunia film, hampir pasti kita akan bisa menemukannya di ruangan yang digunakan Kakek sebagai kantor."
"Bisakah kita mencari di sana?" tanya Pete.
"Ruangan itu selalu dikunci namun aku bisa meminta kuncinya dari Bibi Patty."
Anak-anak mengikutinya sementara ia mengambil kunci dari bibinya, kemudian mereka berbaris sepanjang koridor sempit menuju ke sebuah pintu besar dari kayu oak, kantor pribadi Alfred Hitchcock. Ben memasukkan anak kunci namun sebelum sempat memutarnya, ia menegang.
"Ada apa?" tanya Pete. "Salah kunci?"
"Tidak," kata Ben pelan. "Pintu ini telah dibuka sebelumnya ... lihat!" Ia mendorong dengan tangannya dan di depan mata mereka pintu itu terbuka perlahan.
Jupe menunduk untuk memeriksa lubang kunci. "Ada yang membobol kunci ini," katanya. "Dan belum lama. Lihatlah goresan-goresan di sekitar lubang kunci ini, masih baru. Sepertinya seseorang telah menggunakan peniti atau obeng kecil untuk membuka pintu."
"Dan lihatlah kekacauan yang mereka tinggalkan!" kata Bob, menunjuk ke meja besar yang ada di tengah ruangan.
Kertas-kertas berserakan di atas meja, beberapa lembar bahkan jatuh ke lantai. Map-map telah ditarik keluar dari lemari arsip dan laci-laci meja itu terbuka sebagian.
"Sudah jelas ada seseorang di rumah ini yang berusaha mendahului kita," kata Jupiter.
"Keluarga Fitchhorn!" desis Ben. "Tunggu sampai kulaporkan kepada Bibi Patty! Ia akan mengusir mereka sebelum makan siang!"
Jupiter menggelengkan kepala. "Kita tidak punya bukti. Mungkin saja sepupu bibimu Jeb, atau Winston dan Julia."
"Bukan Julia," kata Ben. "Ia sudah terlalu lama tinggal di sini untuk melakukan perbuatan semacam ini. Namun Jebediah mungkin sekali. Dasar pembuat onar!"
Selagi Ben berbicara, Jupiter telah berjalan mendekati dinding. Panel kayu dengan ukiran tangan setinggi kira-kira satu meter menutupi bagian bawah dinding namun bagian atasnya hingga ke langit-langit penuh dengan foto-foto berbingkai, seperti di rumah Mr. Hitchcock di Hollywood.
"Ada apa, Pertama?" tanya Bob.
"Aku baru ingat sesuatu," kata Jupiter pelan. "Sebuah film hasil karya Mr. Hitchcock beberapa tahun yang lalu. Ceritanya tentang seorang pria yang telah dengan salah dituduh membunuh dan adegan klimaksnya yang mengambil tempat di sebuah ruang pengadilan besar menggambarkan bintang film itu menuding ke arah pembunuh sebenarnya."
"Apa hubungannya itu dengan adanya seseorang yang membobol kantor Mr. Hitchcock?" tanya Pete.
"Bukan kantor ... teka-teki!" kata Jupiter.
"Ya, aku ingat sekarang," kata Bob bersemangat. "Film itu berjudul 'The Fine Art of Murder' dan dibintangi oleh Creighton Duke! Mungkinkah ia adalah 'Crate' yang dimaksud?"
Jupiter mengamati ratusan foto yang menutupi dinding-dinding ruangan. "Berpencar!" perintahnya. "Cari foto Creighton Duke!"
Masing-masing memeriksa satu dinding dan mulai memeriksa setiap foto dengan seksama. Beberapa menit kemudian Ben berseru penuh kemenangan.
"Aku menemukannya!"
Trio Detektif bergegas mendekat untuk mengamati foto hitam putih itu. Foto itu diambil dari adegan klimaks 'The Fine Art of Murder'. Creighton Duke, yang berperan sebagai pria yang telah salah dituduh, berdiri di ruang sidang sambil menunjuk ke arah pembunuh yang sebenarnya. Foto itu dibubuhi tanda tangan dengan tinta hitam. Bunyinya: "Untuk Hitch -- aku tidak melakukannya! Temanmu, Crate."
"Ini pastilah Crate yang dimaksud dalam teka-teki," kata Jupiter. "Sekarang mari kita lihat ke mana Creighton Duke menuding. Semestinya ia akan membawa kita ke foto sebuah gerobak bergembok!"
Anak-anak mengikuti arah yang ditunjuk sang aktor, foto-foto di dinding seberang. Mereka mengamati setiap foto dengan seksama namun tidak ada yang nampak seperti gerobak.
"Pasti ada di sini!" kata Pete. "Mari kita periksa sekali lagi."
"Sebentar," kata Jupiter, mengangkat tangan. "Mari kita pikirkan secara logis. Mr. Hitchcock telah menunjukkan kepada kita bahwa ia sanggup bermain dengan kata-kata. Mungkin ini satu lagi tipuannya. Apa lagi yang mungkin dimaksud dengan gerobak bergembok -- paddy wagon?"
Anak-anak berdiam diri di dalam kantor yang berantakan itu selama beberapa saat, masing-masing berpikir keras.
"Mungkinkah sebuah ambulans?" saran Pete.
"Atau semacam mobil polisi?" kata Bob.
"Pemadam kebakaran?" usul Ben.
"Sebentar, sebentar!" seru Jupiter. "Sepertinya aku tahu, suatu permainan kata yang sungguh bagus!" katanya. "Ben, bibimu bernama Patricia, benar?"
"Benar," jawab remaja Inggris itu.
"Tapi kau tidak selalu memanggilnya dengan nama itu kan?" desak Jupe.
"Kadang-kadang aku memanggilnya Bibi Patty," katanya, "namun apa hubungan ... oh!" Raut wajah Ben menunjukkan bahwa ia mulai mengerti arah pembicaraan Jupe. "Patty," serunya, "bunyinya mirip dengan 'PADDY wagon'!"
"Tepat," sambut Jupe. "Creighton Duke pastilah menunjuk ke arah sebuah foto yang menggambarkan bibimu Patricia, kemungkinan sebagai seorang gadis kecil di dalam sebuah gerobak!"
"Dan inilah dia!" seru Bob. Mereka berkerumun di depan foto yang dimaksud. Di dalam foto itu seorang gadis kecil yang mengenakan gaun putih berenda-renda dan mendekap sebuah boneka duduk di dalam sebuah gerobak berwarna merah. Di sisi gerobak itu terdapat tulisan berwarna putih, "GEROBAK PATTY".
"Kita telah menemukannya!" kata Ben begairah. "Gerobak bergembok dari teka-teki."
Penuh semangat Jupiter meraih bingkai foto itu dan berusaha menariknya dari dinding. Saat itu terdengar bunyi "klik" yang kencang dan setengah meter dari panel kayu yang menghiasi dinding terbuka seperti sebuah pintu kecil.
"Foto itu adalah sebuah kunci untuk membuka pintu rahasia," kata Jupe kagum. "Hebat! Ayo, mari masuk dan melihat ada apa di balik pintu ini!"
Jalan rahasia itu kecil dan sempit pada awalnya namun kemudian melebar setelah beberapa meter sehingga mereka hampir-hampir dapat berdiri tegak. Tidak ada lampu, maka mereka berusaha melihat dengan menggunakan cahaya yang masuk dari pintu kecil itu.
"Ada undakan di sini," kata Jupiter. "Jalan rahasia ini pastilah menuju ke salah satu tempat di lantai dua."
Tepat pada saat itu terdengar benturan di belakang mereka dan anak-anak berada di dalam kegelapan total.
"Seseorang telah menutup pintu!" teriak Ben terkejut.
"Cepat, kembali ke tempat kita masuk!" perintah Pete.
Mereka bergegas kembali ke pintu sempit itu namun segera menyadari bahwa pintu itu terkunci dari luar.
"Tidak ada pegangan untuk membuka pintu di sisi ini," kata Bob. "Kita terjebak!"
  Next Chapter

Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 06

BAB VI
TERJEBAK!

"Hei, keluarkan kami!" teriak Pete.
"Ssst! Diam!" desis Jupe. "Dengar ... aku dapat mendengar langkah-langkah kaki di kantor."
Anak-anak menahan nafas. Samar-samar terdengar suara langkah kaki di koridor yang panjang.
"Kau dengar bagaimana suara langkah kaki itu?" tanya Jupiter, menyuarakan pikirannya.
"Apa maksudmu?" bisik Pete di tengah kegelapan. "Kedengarannya seperti langkah kaki biasa."
"Tidak," kata Jupiter, "ada yang aneh. Sepertinya langkah yang satu terdengar lebih berat daripada yang lain."
Bob dan Pete telah mengenal Jupiter Jones dengan baik dan mereka tidak mau berdebat dengannya tentang sesuatu yang menyangkut ingatan. Otak Jupiter nyaris dapat merekam segala sesuatu yang terjadi dan ia jarang sekali melupakan hal-hal kecil sekalipun.
"Benar," kata Ben. "Sepertinya seseorang berjalan terpincang-pincang."
"Atau dengan tongkat!" kata Bob.
Pete berseru, "Jebediah yang mengurung kita!"
"Atau seseorang yang ingin kita menyangka Jebediah," koreksi Jupiter. Di dalam kegelapan otak Penyelidik Pertama berputar kencang. "Ben, bagaimana tepatnya Jebediah menjadi pincang?"
Ben berpikir sejenak. "Sepertinya Bibi Patty pernah berkata akibat kecelakaan mobil bertahun-tahun yang lalu. Kurasa kakinya benar-benar hancur. Mengapa kau bertanya, Jupiter?"
"Karena meskipun Jebediah menggunakan tongkat, ia masih dapat bergerak dengan cukup lincah. Siapapun yang mengurung kita di sini berjalan menjauh dengan sangat lambat, seolah-olah dengan sengaja agar kita mendengar. Aku sama sekali tidak yakin itu adalah Jebediah!"
"Tapi mengapa ada orang yang mau berpura-pura sebagai Sepupu Jeb?" tanya Ben.
"Mungkin sekali untuk mengalihkan kecurigaan terhadapnya," kata Jupiter, "sekaligus membelokkan penyelidikan kita."
"Aku memilih untuk mendiskusikan hal ini nanti saja," kata Pete tidak sabar. "Aku merasa lebih enak jika dapat melihat tanganku di depan mukaku."
"Aku setuju dengan Pete," kata Bob. "Semakin cepat kita keluar dari sini semakin baik."
"Baiklah," Jupiter mengalah. "Kemungkinan ada semacam mekanisme untuk membuka pintu itu dari dalam sini, mari kita coba dulu."
Bob meraba-raba permukaan pintu yang halus. "Tidak ada pegangan pintu," katanya cemas. "Mungkin ada namun kita takkan menemukannya dalam kegelapan. Mari kita menaiki tangga dan mencoba pintu di ujung satunya."
"Baik," kata Penyelidik Pertama. "Berpegangan pada ikat di depan kalian ... siapa tahu."
"Siapa tahu apa?" tanya Pete gugup.
Dengan Jupiter di depan, anak-anak menaiki undakan yang curam itu dengan hati-hati. Sekitar dua puluh anak tangga kemudian mereka sampai ke suatu dataran dan langit-langit kembali merendah. Sambil merangkak anak-anak mencapai pintu rahasia di ujung satunya.
"Di sini pun aku tidak menemukan pegangan pintu," kata Jupiter, berusaha menyembunyikan rasa cemas. "Tapi aku bisa melihat cahaya melalui retakan di pintu. Mungkin dua di antara kita bisa mendobraknya."
"Biar kubantu," kata Ben. "Mari kita dorong pada hitungan ketiga."
"Hitungan ketiga," ulang Jupiter. "Siap? Satu, dua, tiga!" secara serempak mereka membenturkan bahu ke pintu kecil itu. Terdengar bunyi kayu pecah di sisi sebaliknya dan kemudian udara segar beserta cahaya masuk ke dalam lorong. Jupiter dan Ben berjatuhan ke lantai.
"Berhasil!" seru Pete dan Bob serempak.
Anak-anak merangkak keluar dari jalan rahasia itu dan memandang berkeliling.
Ruangan tempat mereka berada nampak seperti perpaduan antara bioskop dan museum. Benda-benda dari beberapa film Alfred Hitchcock yang termasyur memenuhi ruangan sementara di ujung ruangan sebuah layar film yang besar memenuhi dinding. Berbaris-baris kursi bioskop yang mewah mengisi bagian tengah ruangan. Tali pemisah berwarna merah tergantung pada tiang-tiang kuningan, persis seperti sebuah bioskop yang sebenarnya.
"Ini ruangan proyektor milik kakekku!" seru Ben. "Bibi Patty pernah bercerita kepadaku tentang ruangan ini namun aku belum pernah masuk ke dalam. Pintunya selalu dikunci."
Jupe, yang selalu membanggakan diri atas pengetahuannya yang mendalam mengenai film dan teater, ternganga melihat segala tanda mata yang berjajar di ruangan. "Lihatlah ini!" katanya. "Ini adalah miniatur Mount Rushmore yang digunakan dalam film 'North By Northwest'! Dan yang di sana itu adalah gagak mekanik yang digunakan dalam 'The Birds'! Dan mesin pemutar lagu ini dari 'Diabolical'."
"Apa ini?" tanya Pete, mengangkat sebuah botol anggur berisi semacam pasir.
"Itu dari film 'Notorious'," kata Ben dengan kagum. "Dalam film pasir hitam itu adalah uranium. Sebuah film yang hebat!"
Bob sedang berada di ujung ruangan untuk mengamati tirai kamar mandi dan seperangkat pisau ketika sesuatu di lantai menarik perhatiannya.
"Oh, Ben," katanya.
"Ya, Bob, apa yang kau temukan di sana?"
"Kau bilang ruangan ini selalu terkunci?"
"Setiap saat," kata Ben. "Ada apa?"
Bob menelan ludah dan menunjuk ke benda yang menarik perhatiannya. Beberapa serpihan kayu tergeletak di lantai dekat kaki Bob! "Seseorang telah mendahului kita lagi," katanya.
Jupiter berlari mendekat dan memeriksa pintu. Tertutup namun tidak terkunci.
"Pintu ini telah dicongkel ... sepertinya dengan menggunakan linggis," remaja gempal itu melaporkan. "Seseorang berusaha masuk ke ruangan ini dengan terburu-buru. Kemungkinan setelah mengunci kita di dalam lorong rahasia!"
"Berarti mereka mungkin saja telah menemukan harta itu sekarang!" seru Ben.
"Tidak, kecuali mereka telah memecahkan bagian terakhir teka-teki!" kata Jupiter. "Bob, mari kita lihat catatanmu lagi."
Sekali lagi anak-anak membaca pesan itu.
"Article 33: Skip the H20 and within my estate you�ll find the Crate that leads you to the paddy wagon. Follow the clues and pay your dues and the 2nd of 55 will reward you."
"Benda 33: langkahi H2O dan di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti yang akan membawamu ke gerobak bergembok. Ikuti petunjuk, lakukan kewajibanmu, dan yang kedua dari 55 akan memberimu penghargaan."
"Creighton Duke -- 'peti' kita -- telah membawa kita ke foto bibimu Patricia," kata Jupiter, menyuarakan pikirannya. "Kita telah mengikuti petunjuk dan tiba di ruang proyektor Mr. Hitchcock. Sekarang kita harus melakukan kewajiban kita dan yang kedua dari 55 akan memberi kita penghargaan."
"Kita memang telah mengikuti petunjuk," kata Pete. "Tapi apa maksudnya 'melakukan kewajiban'?"
"Mungkin membayar semacam iuran keanggotaan -- pay your dues," kata Ben. "Kita harus membayar iuran untuk tetap menjadi anggota klub. Bagaimana, Jupiter?"
Jupiter berdiri tenang, mencubiti bibir bawahnya penuh konsentrasi. Matanya menyapu ruangan, berusaha mencari hubungan antara teka-teki itu dan benda-benda yang berasal dari film. Tapi akhirnya Bob yang menemukannya.
"Wah!" serunya. "Sepertinya aku tahu!" Detektif berbadan kecil itu masuk kembali ke lorong rahasia melalui pintu kecil di dinding. Ia menutup pintu dan membukanya lagi sementara yang lain berusaha memahami tindakannya.
"Rasanya aku tidak mengerti, Data," kata Jupiter sambil mengerutkan kening.
"Benda apa yang pertama kali kulihat ketika aku membuka pintu rahasia ini?" tanyanya. "Mesin pemutar lagu! Apa yang kita lakukan dengan sebuah mesin pemutar lagu?"
"Kita memasukkan koin untuk menyuruhnya memainkan lagu!" seru Ben. "Itulah kewajiban yang harus kita lakukan!"
Jupiter Jones nampak agak kesal karena bukan ia yang memecahkan bagian teka-teki itu namun ia menyelamati Bob dengan sportif.
"Deduksi yang hebat, Data," katanya.
Wajah Bob nyaris bersinar akibat pujian Jupe. Tidak sering Penyelidik Pertama mengakui bahwa seseorang telah mendahuluinya memecahkan masalah.
"Kalau begitu yang kedua dari 55 pastilah sesuatu yang berhubungan dengan mesin pemutar lagu," kata Pete. "Mr. Hitchcock pastilah memaksudkan baris kedua atau bait kedua dari lagu nomor 55 sebagai petunjuk selanjutnya!"
Jupiter dengan cepat menyalakan mesin itu dan menekan nomor 55 di layar. Anak-anak dengan bergairah menunggu mulainya lagu itu.
Tidak terjadi apa-apa.
"Ada yang tidak beres," kata Jupiter. Ia menekan nomor 55 lagi dan menunggu.
"Mengapa lagu itu tidak dimainkan?" seru Pete.
Jupiter berlutut dan memeriksa mesin itu. Jemarinya menemukan sebuah tuas kecil yang membuka bagian depan mesin. Ia membukanya dan mengangkat bagian depan mesin itu. Nampaklah berbaris-baris piringan hitam antik.
"Seperti yang kutakutkan," kata Jupiter muram. "Nomor 55 tidak ada!"
Next Chapter

Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 07

BAB VII
HARTA TERSEMBUNYI

"Bagaimana kita bisa tahu yang kedua dari 55 jika lagu nomor 55 tidak ada?" tanya Pete putus asa.
Keempat anak itu berdiri mengelilingi mesin pemutar lagu di ruang proyektor Alfred Hitchcock, menatap tempat piringan hitam yang kosong itu dengan tidak percaya.
"Nampaknya kita telah kalah, Teman-teman," kata Ben sedih, menutup bagian depan mesin itu. "Bagaimanapun juga, usaha yang bagus. Kalian benar-benar detektif hebat, bisa sampai sejauh ini. Kalian patut mendapatkan pujian."
Orang biasa akan menyerah kalah saat itu juga. Namun Jupiter Jones sama sekali bukan orang biasa. Ia mengerutkan kening sambil menatap mesin pemutar lagu itu, merasa yakin ada yang terlewatkan. Sesuatu yang jelas. Ketika akhirnya ia mendapatkannya, ia tersenyum bangga.
"Dari raut wajah Jupe," kata Bob, menyadari senyuman Jupiter, "aku berani mengatakan Trio Detektif belum lagi kalah!"
"Kau menemukan sesuatu, Jupiter?" tanya Ben penuh harap.
"Penjahat itu tidak sepintar sangkaan mereka," kata Jupiter. "Ia mengambil piringan hitam itu ... namun sama sekali lupa akan cara kerja mesin pemutar lagu."
"Coba tolong jelaskan lagi, Pertama," keluh Pete.
Penyelidik Pertama yang gempal mengusap permukaan kaca mesin pemutar lagu, seolah-olah mengatakan bahwa Pete dan Bob -- seperti dirinya -- seharusnya bisa menemukan petunjuk itu dengan mudah. Ketika mereka hanya menatap kosong, ia mendesah. "Pencuri itu harus mengangkat bagian depan mesin ini untuk mengambil piringan hitam," Jupiter menjelaskan dengan sabar. "Saat itu ia lupa bahwa di kaca penutup ini terdapat daftar lagu ... dan nomor urutnya!"
"Tentu saja!" kata Bob. Petunjuk memang jelas setelah dijelaskan oleh Jupiter. "Tanpa daftar lagu kita hanya bisa menebak-nebak lagu apa yang dimainkan saat itu. Lagu nomor 55 ada di dalam daftar lagu ini!" Remaja ramping berkacamata itu menelusuri daftar lagu dengan jarinya sampai ia menemukan nomor 55. "Ini dia!" serunya. "'Harta Tersembunyi' oleh sebuah grup musik bernama 'Denny Lynds & The Gail Force Winds'."
"Kita harus mencari lagu itu!" perintah Jupiter. "Dengan segera!"
"Ben, apakah ada toko musik di dekat sini tempat kita dapat menemukan lagu itu?" tanya Pete.
Remaja Inggris itu berpikir sejenak. "Yang paling dekat ada di Picadilly Circus," katanya kemudian. "Kita dapat menggunakan mobilku untuk pergi ke kota!"
Pete nampak bergairah. "Akhirnya kita bisa juga melihat pemandangan!"
"Sayangnya tidak," kata Jupiter sambil menggelengkan kepala. "Kau dan Bob tinggal di sini."
"Mengapa selalu harus kau yang dapat bersenang-senang?" tanya Pete setengah bercanda.
"Karena harus ada yang mengawasi Jebediah dan Keluarga Fitchhorn," Jupiter menjelaskan. "Seseorang telah mendahului kita ke semua petunjuk ... namun kita pastilah tidak tertinggal terlalu jauh karena mereka repot-repot mengunci kita di lorong rahasia itu."
"Jupe benar," kata Bob setuju. "Tapi marilah kita berangkat bersama-sama. Lalu ketika kita sudah cukup jauh dari rumah, Pete dan aku dapat menyelinap kembali ke rumah ini. Mungkin si pencuri akan beraksi ketika ia menyangka kita sedang pergi."
"Ide yang bagus, Data," kata Jupiter. "Mari kita umumkan bahwa kita akan pergi melihat-lihat di kota dan tidak akan ada di sini selama beberapa jam."
Anak-anak meninggalkan ruang proyektor dan berbaris menuruni tangga. Di bawah mereka bertemu dengan Patricia.
"Aku mencari-cari kalian, Anak-anak!" katanya. "Ada kemajuan dengan teka-teki itu?"
"Sayangnya tidak," kata Jupiter kuat, mengedipkan mata ke arah Patricia. "Kami menghadapi jalan buntu, maka kami memutuskan untuk pergi ke London, melihat-lihat atraksi turis di sana."
Putri Alfred Hitchcock itu dengan segera mengerti dan membalas kedipan Jupiter.
"Wah, sayang sekali," katanya. "Mungkin sedikit udara segar bisa menjernihkan pikiran kalian dan nanti bisa ada kemajuan dalam teka-teki ayahku."
Anak-anak mengenakan jaket mereka dan berjalan menuju pintu. "Kami akan naik mobilku, Bibi Patty," Ben berseru sambil menoleh ke belakang. "Kami akan berusaha kembali sebelum makan malam!"
"Bersenang-senanglah, Anak-anak!" seru wanita itu di belakang mereka. "Dan hati-hati di jalan, Benjamin!"
Mobil Ben adalah sebuah Silver Cloud yang mulus, dengan atap yang bisa dibuka dan empat tempat duduk. Pete bersiul sambil mengusap-usap kap mesinnya yang mengkilap.
"Kau yakin Bob dan aku tidak dapat ikut?" pintanya memelas.
Jupiter menyeringai. "Begitulah. Tapi aku berjanji Ben dan aku akan bersenang-senang demi kalian berdua."
"Lucu sekali!" kata Pete mencibir.
"Jangan lupa bahwa kalian sedang menangani sebuah kasus!" tambah Bob sambil masuk ke dalam mobil sport itu.
Mobil itu meraung hidup dan anak-anak memasang sabuk pengaman mereka. "Mari kita pergi!" seru Ben. Dan dengan sedikit tanah berhamburan mobil itu meluncur ke jalan.
Ketika mereka sudah di luar jangkauan penglihatan dari Puri Hitchcock, Ben menghentikan Silver Cloud itu di tepi jalan.
"Ada jalan setapak melintasi hutan di sana itu yang digunakan para pemburu musim berburu," ia memberi petunjuk kepada Bob dan Pete sementara mereka keluar dari jok belakang mobil. "Berjalanlah di sebelah kanan dan jalan itu akan membawa kalian kembali ke rumah. Dari situ kalian bisa menggunakan pintu masuk Abernathy untuk menyelinap masuk."
"Satu dari kalian mengamati Jebediah sementara yang satunya mengawasi Keluarga Fitchhorn," usul Jupiter. "Dan hati-hati," tambahnya.
"Dan kalian jangan sampai terlalu banyak bersenang-senang," tukas Pete.
Dan Silver Cloud pun meluncur menjauh, meninggalkan kedua detektif itu di tepi jalan.
"Sungguh menguntungkan menjadi Penyelidik Pertama!" protes Pete.
Bob tersenyum dan menepuk punggung temannya. "Ayo," katanya, "mulai berjalan."
Rumah nampak sepi ketika Bob dan Pete tiba. Dengan hati-hati mereka mengamati halaman belakang untuk memastikan tidak ada orang yang melihat.
Pete mendesis, "Lihat!"
Jebediah O'Connell sedang berkeliaran di halaman, mencungkil beberapa batu taman dengan tongkatnya dan melihat ke baliknya. Lelaki berkumis lebat dan bertopi aneh itu meletakkan tangannya di atas sebuah jam matahari dan membungkuk untuk mengamati sesuatu di tanah.
"Kira-kira apa yang dicarinya?" bisik Bob.
"Kau tinggal saja di sini dan mencari tahu," kata Pete. "Aku akan mencari Fitchhorn."
"Tidak akan terlalu sulit," Bob menyeringai. "Ikuti saja suara pertengkaran!"
"Terima kasih atas petunjuknya," gumam Pete. "Sampai ketemu nanti." Penyelidik Kedua menunggu sampai Jebediah membelakanginya, kemudian berlari menuju pintu masuk pelayan di bagian belakang rumah.
Bob memandangi temannya masuk ke dalam dan kemudian berusaha mencari posisi yang nyaman di balik sebatang pohon yang telah tumbang, mengawasi dan menunggu tindakan si licik Jebediah O'Connell selanjutnya.
Di dalam rumah Pete bergerak seperti sesosok bayang-bayang. Ia menyelinap dari satu ruangan ke ruangan yang lain, setiap beberapa saat berdiam diri untuk mendengarkan.
Rumah itu terasa terlalu sunyi.
Ia mulai bertanya-tanya jika Keluarga Fitchhorn telah pergi ketika bunyi sebuah pintu berderit di engselnya membuatnya menahan nafas dan ototnya menegang.
Pete mengambil kesimpulan bahwa suara itu berasal dari ruangan kecil di dekat dapur yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan kering dan kalengan. Ia berjingkat menuju dapur dan memandang sekilas.
Pintu menuju tempat penyimpanan anggur terbuka!
Pete menggigit bibir dan memandang berkeliling. Di manakah Bob saat dibutuhkan? Remaja kekar itu ragu-ragu sejenak dan kemudian beringsut menuju pintu dan mendengarkan lagi.
Ia merasa mendengar seseorang bergerak di bawah sana namun tidak yakin. Setelah menarik nafas panjang, Pete menyelinap menuruni tangga batu yang dingin. Bau udara yang lembab dan sumpek menghantamnya, membuatnya mengerutkan hidung.
Ada sebuah bola lampu yang menyala di bawah tangga namun bagian lagi ruang bawah tanah itu diselimuti bayang-bayang gelap yang membuat bulu kuduk Pete berdiri. Pipa-pipa dalam berbagai ukuran bersimpang siur di langit-langit dan batu-batu tua serta semen tersusun membentuk dinding. Ia mulai berpikir untuk kembali dan menemui Bob ketika terdengar lagi bunyi pintu berderit yang membuatnya terpaku.
Ada seseorang di bawah sana!
Pete Crenshaw mengumpulkan segala keberaniannya dan memaksa diri menyusuri rak-rak berdebu yang dipenuhi toples-toples acar dan botol-botol anggur milik Puri Hitchcock yang tak terhingga jumlahnya. Sebuah pintu kayu yang memudar dimakan usia berdiri di ujung ruangan. Pete menelan ludah dan dengan hati-hati mendekatinya.
Sebuah sarang laba-laba menyapu mukanya dan hampir saja ia terpekik kaget. Remaja jangkung itu kemudian mendengar bunyi gemeletuk dan menyadari bahwa ia membayangkan suara giginya sendiri beradu. Ia merapatkan rahang dan berusaha memikirkan tindakan yang akan diambil Jupiter Jones dalam situasi seperti ini.
Pete ragu-ragu sejenak di depan pintu yang terbuka itu, sekali lagi berhenti untuk mendengarkan. Terdengar suara air menetes di suatu tempat di dalam kegelapan. Sambil berusaha melihat ke dalam bayang-bayang, ia berjalan dengan lambat melalui ambang pintu. Hanya tiga anak tangga yang dapat dilihatnya, turun menuju sebuah ruangan kecil. Pete berdiam diri di atas tangga dan menunggu ... satu-satunya suara yang terdengar adalah debar jantungnya.
Tiba-tiba ada tangan yang mendorong punggungnya dengan kasar dan sambil terpekik Pete terjatuh dengan kepala dahulu ke dalam kegelapan!
Penyelidik Kedua yang atletis itu bangga akan kecekatannya dan ia berusaha mengendalikan jatuhnya -- mendarat di lantai batu yang aus sambil membalikkan badan untuk melihat si penyerang.
Tapi yang dilihatnya membuat darahnya seolah-olah kering!
Tepat sebelum pintu tua itu terbanting tertutup dan membuatnya berada di dalam kegelapan total, Pete Crenshaw sempat melihat seorang wanita bergaun Victoria yang menggenggam tali melingkar di tangan!
Next Chapter

Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 08

BAB VIII
DI MANA PETE?

Bob Andrews menarik jaketnya menutupi kepala dan menggerutu. Yang satu jam yang lalu mulai sebagai gerimis kecil telah berubah menjadi hujan dan kini sepertinya akan menjadi sangat lebat.
Jebediah O'Connell masih tetap berkeliaran di halaman, kini dengan payung di atas kepalanya, berhenti di sana sini untuk mengamati sesuatu atau mencungkil sesuatu dengan tongkatnya. Bob bertanya-tanya jika nasib Pete lebih beruntung di dalam. Paling tidak ia kering!
Bob melihat arlojinya. Jam makan siang telah lama lewat dan kini perutnya memprotes. Bob menimbang-nimbang godaan untuk menyudahi pengawasannya terhadap Jebediah sehingga ia dapat masuk, mengeringkan badan, dan makan sesuatu. Tidak, Jupe tidak akan menerimanya, pikir anak itu. Lebih baik tetap berkeliaran di hutan, membuntuti Sepupu Jeb berjalan tanpa henti di bawah siraman hujan.
Remaja bertubuh kecil itu menggigil dan berusaha menahan giginya agar tidak bergemeletuk. Ia menerima keadaan bahwa ia harus tetap kedinginan, kelaparan, dan menderita hingga Jupe dan Ben kembali dari London.
Mujur bagi Bob, ia hanya perlu menunggu sejam lagi. Dari pos pengamatannya di antara pepohonan, Bob melihat Silver Cloud Benjamin Hitchcock, kini dengan atap terpasang, meluncur masuk dan berhenti. Sambil berhati-hati agar tidak terlihat oleh Jebediah, ia mengitari rumah untuk menemui teman-temannya.
"Ada kemajuan?" tanyanya.
Jupe mengacungkan sebuah kantung kertas kecil di tangannya sementara mereka berlari ke dalam. "Mereka mengizinkan kami mendengarkannya di toko," katanya. "Namun aku memutuskan untuk membelinya juga untuk berjaga-jaga."
Ketika anak-anak sedang menanggalkan jaket mereka yang basah, Patricia O'Connell muncul, nampak cemas.
"Aku gembira kalian telah pulang, Anak-anak," katanya.
Ben merasa ada sesuatu yang mengganggu pikiran bibinya dan nampak was-was. "Ada apa, Bibi Patty? Ada sesuatu yang terjadi?"
Wanita cantik itu tersenyum dan nampak agak malu. "Tidak, tidak, tidak ada apa-apa," katanya. "Hanya saja ... semenjak kalian pergi, aku mendengar suara-suara di rumah ini."
"Maksud Anda hantu, ma'am?" tanya Bob bersemangat.
"Oh, tidak!" kata wanita itu, memaksakan untuk tertawa. "Aku yakin bukan sesuatu semacam itu. Kurasa hanya karena sudah lama aku tidak berada sendirian di dalam rumah besar ini dan ... aku tidak tahu di mana Keluarga Fitchhorn dan aku tidak melihat Sepupu Jeb selama berjam-jam! Aku berusaha tidur siang namun tetap saja suara-suara aneh itu terdengar."
"Sepupu Anda Jeb ada di halaman," kata Bob memberi tahu. "Ia ada di luar sana selama berjam-jam."
Jupiter mengusap dagunya dan berpikir. "Bisakah Anda menunjukkan kepada kami tempat Anda berada ketika terakhir kali mendengar suara-suara itu?"
"Di dapur," kata Patricia.
Anak-anak mengikutinya ke sana, kemudian berdiam diri, mencoba menangkap suara hantu yang misterius.
Patricia nampak makin malu. "Aku mendengar suara aneh mengetuk-ngetuk -- seperti di dalam pipa -- dan aku bahkan berani bersumpah telah mendengar suatu suara beberapa kali." Ia memandang anak-anak dengan malu-malu. "Apapun itu, nampaknya sekarang sudah tidak ada."
Jupe tersenyum kepadanya. "Kami baru saja hendak mengadakan rapat, bagaimana jika Anda bergabung?" usulnya, berusaha membuat Patricia merasa nyaman. "Adakah tempat yang memungkinkan kita berbicara dengan tenang?"
"Perpustakaan," kata wanita itu. "Lewat sini."
Perpustakaan itu adalah sebuah ruangan besar dengan cahaya temaram yang dipenuhi buku-buku dan bayang-bayang. Dinding-dindingnya yang tertutupi buku-buku menjulang tinggi ke langit-langit yang melengkung. Samar-samar tercium bau kertas tua dan anak-anak teringat akan perpustakaan umum di Rocky Beach, tempat Bob bekerja paruh waktu.
Sebuah bola dunia yang besar sekali berada di salah satu sudut ruangan dan sebuah tangga tinggi beroda memungkinkan orang mencapai rak-rak buku tertinggi yang berdiri sepanjang tiga dinding ruangan. Salah satu sudut bersih dari buku. Di sudut ini terdapat sebuah jendela besar dari kaca berwarna-warni yang dengan jelas menggambarkan seorang ksatria dengan baju besi berwarna biru, duduk di atas punggung seekor kuda bermata delima. Sepotong kaca di bagian bawah jendela, berbentuk sebuah gulungan naskah, bertuliskan "Ksatria Templar" dalam huruf-huruf Inggris Kuno. Patricia menyingkapkan tirai tebal berenda dan secercah cahaya masuk ke dalam ruangan kelam itu, memperjelas lukisan di jendela.
Bob bersiul. "Aku tidak akan suka membersihkan jendela itu. Ksatria itu menatap kita lekat-lekat."
"Dan kuda itu juga tidak lebih ramah," tambah Ben sambil menggigil.
"Kurasa kita sudah hampir menyelesaikan teka-teki ini," potong Jupe. "Namun kita harus bergerak dengan cepat. Sepertinya ada pihak lain di dalam rumah ini yang juga sangat ingin menemukan harta itu."
"Jadi itu yang kau maksud dengan kerlinganmu tadi," kata Patricia. "Kau punya dugaan siapa itu, Jupiter?"
Jupe mengintip keluar melalui salah satu potongan kaca yang bening ke arah awan pembawa badai yang berarak-arak mendekat. Dari tempatnya berdiri ia dapat melihat halaman dengan jam matahari dan Jebediah di salah satu ujungnya. "Apa yang Anda ketahui tentang Keluarga Fitchhorn, Patricia?" tanyanya. "Dan apa yang Anda ketahui tentang sepupu Anda Jebediah?"
Patricia duduk di lengan sebuah kursi besar yang terbuat dari kulit dan mendesah, mengusap keningnya kembali. "Keluarga Fitchhorn tiba di sini bersama seorang pengacara yang meragukan ketika aku sedang berada di Hollywood untuk pembacaan surat wasiat ayahku. Mereka menunjukkan beberapa dokumen kepada Julia dan mengaku sebagai sanak saudara serta berhak atas sebagian tanah ini. Sebelumnya aku telah merasa bahwa kepergian ayahku akan mendatangkan beberapa orang semacam mereka, jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Sudah banyak hal di dalam pikiranku, maka kusuruh Julia membiarkan mereka tinggal sampai aku tiba. Saat itu kuharap mereka akan bosan sendiri dan akhirnya pergi."
"Dan bagaimana dengan sepupu Anda?" tanya Jupiter.
Patricia mendesah kembali. "Jebediah adalah seorang pria yang aneh. Ia nampak cukup jujur. Ia pensiun dini karena kakinya dan membantu-bantu di rumah ini sebagai tukang kebun. Kuizinkan dia tinggal di sini sebagai bayarannya. Ia nampak cukup puas akan perjanjian itu ... namun kadang-kadang ia berubah murung dan mengurung diri. Lalu ia akan menghilang selama beberapa hari tanpa mengatakan apa-apa."
Terdengar ketukan lembut di pintu dan Winston masuk membawa sebuah nampan. "Saya membawakan teh untuk Anda, madam."
"Kau sungguh baik, Winston," Patricia tersenyum. "Anak-anak baru saja berkata bahwa mereka hampir menyelesaikan teka-teki itu."
"Hebat! Apakah semua anak Amerika sepandai kalian?" Winston membungkukkan badan. "Namun bukankah kalian datang bertiga?"
"Waduh, benar!" seru Bob. "Pete telah hilang berjam-jam!"
Jupiter nampak cemas. "Maksudmu kau tidak melihatnya sejak Ben dan aku pergi ke London?"
"Tidak sejak kami berpencar," jawab Bob.
"Mungkin sebaiknya kita mencari Master Pete," saran Winston. "Mungkin ia tersesat di halaman. Tanah ini luas sekali ... orang bisa tersesat selama berhari-hari di tengah hutan!"
Jupiter hendak mengusulkan agar mereka berpencar untuk mencari Pete ketika tiba-tiba ia terdiam. "Sebentar," desisnya. "Dengarkan!"
Mereka berdiri diam dan menunggu selama beberapa saat dalam keheningan yang mencekam.
"Rasanya saya tidak mendengar apa-apa, Master Jupiter," kata Winston akhirnya. "Sebentar lagi gelap. Jika Master Pete ada di hutan ...."
"Tunggu ... sst!" bisik Jupiter lagi. "Kalian dengar itu?"
Mereka mendengarkan kembali. Kali ini samar-samar mereka dapat mendengar suara ketukan yang sepertinya datang dari lantai.
"Aku mendengarnya!" seru Ben. "Seperti seseorang memukul-mukul pipa."
"Itulah suara yang kudengar!" kata Patricia.
"Itu sinyal SOS!" seru Bob. "Pasti Pete yang berusaha memberi tanda kepada kita!"
"Di mana Pete bisa menemukan pipa?" tanya Jupiter cepat.
"Di ruang penyimpan anggur!" seru Winston. "Ikuti saya, Tuan-tuan!"
Kepala pelayan bertubuh ramping itu berlari keluar dari perpustakaan, diikuti oleh anak-anak dan Patricia. Ia membawa mereka ke gudang kecil di dekat dapur, membuka pintu, dan mereka menuruni tangga batu.
Winston meraba-raba di dalam kegelapan sampai menemukan seutas tali untuk menyalakan bola lampu di dasar tangga. Ketika ia menyalakannya, anak-anak dapat melihat jaringan pipa bersimpang siur di sepanjang langit-langit yang rendah ... sepertinya mustahil untuk mengetahui yang mana yang dipukul Pete!
"Ketukan itu semakin kuat sekarang," kata Jupiter.
"Lewat sini!" kata Winston. Pria jangkung berjas itu melintasi ruangan besar penyimpan anggur itu dengan ahli, baris demi baris botol anggur, hingga akhirnya ia mencapai sebuah pintu. Dengan cekatan ia membuka sebuah gerendel besar dan membuka pintu yang berat itu, menyebabkan engselnya berderit.
Di balik pintu itu Pete Crenshaw menggenggam sebuah pipa besi seperti sebuah pemukul baseball! Matanya tertutup dan ia keluar sambil mengayunkan pipanya, nyaris menghantam kepala Winston!
"Kau tidak akan bisa menangkapku, Hantu!" teriaknya.
Jupiter menyambar pergelangan tangan Pete dan mencegahnya meremukkan tengkorak Winston. "Pete!" serunya. "Pete, ini kami!"
Penyelidik Kedua yang kekar itu mengejapkan matanya beberapa kali sebelum melonggarkan genggamannya pada pipa.
"Wah, aku sungguh gembira bertemu denganmu!" katanya lemah.
Jupe mengambil pipa dari tangan Pete dan melemparkannya kembali ke dalam ruangan. "Apa yang terjadi?" tanyanya. "Bagaimana kau bisa terkurung di dalam situ?"
"Bawa aku ke bawah cahaya matahari yang hangat dan akan kuceritakan semuanya," kata Pete.
Mereka membawa teman mereka yang kelelahan ke tangga batu namun Jupiter berhenti di bawah dengan suatu pikiran di wajahnya.
"Ada apa, Pertama?" tanya Bob.
"Ini bukan waktunya untuk deduksi," erang Pete. "Aku harus makan sesuatu sebelum mati kelaparan!"
"Baiklah," kata Jupe. "Kurasa kau benar."
Mereka pergi ke lantai dua dan berkumpul di perpustakaan. Winston bergegas pergi ke dapur dan kembali dengan sebuah nampan berisi daging tebal, roti keju, dan soda jeruk.
"Sepertinya kau harus mengambilkan satu nampan lagi untuk yang lain!" canda Pete sambil menggigit roti. "Aku belum makan sejak sarapan!"
"Sementara Pete memulihkan diri dari kelaparan," kata Jupiter, diikuti sebuah gigitan besar pada rotinya, "Ben dan aku akan menceritakan apa yang kami temukan dari piringan hitam itu. Setelah itu Pete dapat memberi tahu kita bagaimana ia bisa terkurung di ruang penyimpan anggur."
"Saya jadi ingat, madam," kata Winston. "Saya tadi hendak memberi tahu Anda bahwa pintu ruang proyektor telah dibobol. Saya telah memperbaiki kuncinya namun Anda mungkin ingin memeriksanya sendiri." Ia berdehem dan nampak agak sungkan. "Saya tahu saya tidak pantas mengatakan ini, namun saya merasa wajib memberi tahu Anda bahwa saya melihat Mr. Fitchhorn di lantai atas," tambahnya kemudian.
"Terima kasih, Winston," kata Patricia. "Kurasa Keluarga Fitchhorn sudah waktunya pergi," katanya tegas. "Dan mereka tidak akan mendapatkan satu sen pun uang ayahku!"
"Kami akan mendapatkan yang merupakan hak kami yang sah!" sebuah suara menggeram dari pintu.
Next Chapter

Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 09

BAB IX
JAM DAN JAM LAGI

"Fitchhorn!" seru Pete. "Sekarang kita tidak bisa mendiskusikan petunjuk dari piringan hitam itu!"
Lelaki berbadan bulat itu melangkah dengan penuh ancaman ke dalam perpustakaan, diikuti oleh istrinya yang kurus kering. "Kau punya petunjuk baru lagi?" ia bertanya kepada Jupiter. "Apakah itu, Nak? Ayo bicara!"
"Jangan, Jupe!" kata Bob marah. "Mereka membobol ruang proyektor dan mencuri piringan hitam itu ... dan sekarang mereka tidak dapat memecahkan petunjuknya!"
"Kami tidak pernah berbuat demikian, Anak Muda!" kata Stella Fitchhorn dengan suaranya yang melengking. "Betapa kurang ajarnya anak muda zaman sekarang!" Seolah-olah menegaskan perkataannya, ia mengeluarkan saputangan dan membersihkan hidungnya yang seperti paruh, mengeluarkan suara keras.
Timothy Fitchhorn menatap istrinya dengan marah. "Sudah kukatakan biar aku yang bicara!" geramnya. "Sekarang lebih baik kau katakan apa yang kau tahu, Nak. Jika kita bekerja sama, kita mungkin bisa memecahkan teka-teki si Tua Hitch malam ini juga!"
"Saya sangat meragukan kejujuran pria ini, madam," kata Winston. "Saya duga ia berniat mengambil seluruh harta itu begitu ditemukan."
"Dengar, kau pelayan tak tahu diuntung," ancam Mr. Fitchhorn, "kau digaji sebagai pelayan -- bukan konsultan! Lebih baik kau mengurusi urusanmu sendiri!"
"Cukup!" teriak Patricia. Bob melihat bahwa wanita itu gemetar dan nyaris tidak dapat menahan air mata. "Jupiter, katakan apa yang kau tahu dan kita semua akan mencari bersama-sama. Dengan demikian tidak seorang pun dapat menguasai apapun yang disembunyikan ayahku."
Tiba-tiba sebuah suara lain terdengar dari pintu. "Kudengar teriakan," kata Jebediah. "Apakah kalian sedang berpesta dan tidak mengundang Jebediah Tua?"
"Saya senang Anda ada di sini," kata Jupiter Jones. "Sekarang setelah kita semua berkumpul, kita bisa mendiskusikan petunjuk terakhir Mr. Hitchcock."
"Oh. omong kosong itu lagi," Sepupu Jeb mencibir. "Kalian boleh memiliki bagianku dari harta itu, aku tidak peduli. Mungkin sekali semua ini kelakar belaka, mengingat selera humor Mr. Hitchcock."
"Kalian semua dengar apa yang dikatakannya!" kata Mrs. Fitchhorn dengan lengkingannya, "ia tidak peduli akan bagiannya!"
"Diam!" tukas Timothy Fitchhorn. "Baiklah, Nak, apakah petunjuk terakhir dari piringan hitam itu?"
"Jupe, kau yakin akan ini?" tanya Pete.
"Aku tidak yakin ini adalah ide yang bagus, Bibi Patty," bisik Ben.
Jupiter berdiri di depan kaca jendela yang berwarna-warni dengan tangan di pinggang. "Rumah ini besar," katanya kemudian. "Namun tidak terlalu besar sehingga seseorang bisa bertindak tanpa diketahui yang lain untuk waktu yang lama. Daripada masing-masing berkeliaran sendiri-sendiri, lebih baik kita semua bekerja sama."
Timothy Fitchhorn mengusap-usapkan kedua telapak tangannya penuh semangat. "Keputusan yang bijak, Nak," ujarnya. "Sekarang, ada apa di piringan hitam itu?"
Jupiter menegakkan tubuhnya -- ia tidak dapat menahan godaan untuk menikmati perhatian yang terpusat kepadanya, hal itu sudah mendarah daging. "Bait kedua dari lagu 'Harta Tersembunyi' oleh Denny Lynds & The Gail Force Winds berbunyi:
"Waktu telah berhenti tanpamu, Aku seperti Adam tanpa Hawa, Aku akan terus mencari di dunia ini, Hingga aku telah menguburkan kesedihanku."
Mata Timothy Fitchhorn berbinar-binar penuh gairah. "Aku berani bertaruh, bagian tentang 'waktu yang telah berhenti' bermakna sebuah jam yang tidak berfungsi lagi!" serunya sambil mengusap keringat di dahinya dengan saputangan. "Pasti ada satu di salah satu tempat di rumah ini!"
Ben melompat bangkit. "Bibi Patty, Bibi tahu jam yang tidak berfungsi lagi?"
"Pasti ada berlusin-lusin jam di rumah ini," katanya putus asa, "beberapa di antaranya pasti tidak berfungsi lagi!"
"Kita harus memeriksa satu per satu," kata Jupiter. "Dan kita harus memeriksa bersama-sama. Ini satu-satunya jalan!"
"Ide yang bagus, Nak," Mr. Fitchhorn setuju, mendorong rambutnya kembali ke tempat semula dengan tangannya yang gemuk. "Mari mulai dengan jam besar ini!"
Para pemburu harta karun itu berkerumun di sekitar jam besar yang ada di perpustakaan sementara Winston dan Pete memeriksanya dengan seksama.
"Menurutku jam ini tepat waktu," kata Pete. "Rasanya ini jam yang salah."
"Ke ruangan sebelah!" seru Mr. Fitchhorn dengan cepat.
Satu per satu, semua jam di rumah itu mereka periksa. Hari telah larut ketika mereka tiba di ruang bilyar di lantai dua, satu-satunya ruangan yang belum mereka periksa. Mereka merasa frustrasi atas keberhasilan yang tak kunjung tiba.
"Ada dua jam di ruangan ini," kata Bob. "Satu jam dinding dan satu lagi jam besar yang berdiri di lantai."
Jam besar itu mulai berdentang, menunjukkan tengah malam, sementara Bob dan Ben mencopot jam yang lebih kecil dari dinding.
Ketika jam yang besar berdentang untuk terakhir kalinya, Jupiter duduk dengan tegak seolah-olah digigit oleh sesuatu. Ia menatap jam antik itu.
"Hei," kata Pete, "ada apa denganmu?"
Jupiter bergegas mendekati jam itu dan mulai meraba-raba. "Bantu aku, Pete," katanya. Yang lain menyadari gairah remaja gempal itu dan berkerumun di sekitar jam.
"Kau menemukan sesuatu, Jupiter?" tanya Ben penuh harap.
"Ingat, kami juga berhak!" Stella Fitchhorn mengingatkan orang-orang.
"Jangan berkata apa-apa lagi!" suaminya memperingatkan.
"Kecuali ada yang namanya 'jam tiga belas'," kata Jupiter melalui bahunya, "kurasa harta kita ada di dalam jam ini!"
"Wah!" kata Bob. "Aku sama sekali tidak menyadari jam ini berdentang tiga belas kali!"
Jupiter telah membuka pintu kaca tempat bandul jam. Jari-jarinya akhirnya menemukan sebuah tombol jauh di belakang.
"Dapat!" serunya.
Jarinya yang gempal menekan tombol itu dan terdengar suara 'klik' seperti kunci yang terbuka. Jam besar itu bergerak maju beberapa inci.
"Jam ini berengsel!" kata Jupiter kagum. "Suatu hasil karya yang hebat. Jam ini tergantung pada sebuah bingkai besi yang tertanam di dinding!"
Penyelidik Pertama yang gempal membuka jam yang berfungsi sebagai pintu itu, menampakkan suatu ruangan kecil yang tidak lebih besar daripada sebuah lemari. Ruang berdinding batu bata itu tidak berisi apa-apa kecuali sebuah landasan yang di atasnya terdapat patung dada Alfred Hitchcock, serupa dengan yang dimiliki anak-anak di markas.
Di bawah patung dada itu terdapat sebuah amplop, tersegel oleh lilin dengan tulisan "???" di atasnya.
Jupiter mengambil amplop itu, matanya bersinar-sinar. Namun ketika ia membalikkan surat di tangannya untuk membuka segel lilin itu, raut wajahnya berubah aneh.
"Ada apa, Pertama?" tanya Bob.
"Ayolah, Jupe," desak Pete, "buka!"
Timothy dan Stella Fitchhorn nyaris melompat-lompat kegirangan. "Ya, Nak," lelaki gendut itu menyeringai dan menjilat bibirnya, "buka!"
Jupiter mengacungkan amplop itu di depan mukanya. "Amplop ini sudah dibuka!"
Next Chapter

Trio Detektif - Misteri Warisan Hitchcock 10

BAB X
SURAT YANG TELAH DIBUKA

"Apa maksud Anda?" tanya Winston. "Amplop itu tersegel!"
"Jelaskan, Nak," tuntut Timothy Fitchhorn. "Aku mulai tidak sabar dengan segala aksi Sherlock Holmes-mu!"
"Dari mana kau tahu surat itu sudah dibuka sebelumnya, Jupiter?" tanya Ben.
"Lihatlah," kata Jupe. Orang-orang berdesak-desakan dan memandangi lilin segel itu. "Kuasumsikan surat ini dari Mr. Hitchcock dan ia telah menyegelnya dengan lilin berwarna merah tua. Nah, jika lilin berwarna diletakkan di atas kertas, akan ada bekasnya," katanya menjelaskan. "Siapapun yang telah membuka surat ini telah menyegelnya kembali dengan lilin yang berbeda, warna merahnya lebih muda ... tidak sepenuhnya menutupi bekas lilin yang pertama dilekatkan Mr. Hitchcock."
Stella Fitchhorn mengeluarkan saputangan putih dan membersihkan hidung. "Dan semua ini membuktikan apa?" ia mendengus dengan angkuh.
"Sederhana saja, seseorang di rumah ini telah menemukan harta itu," jawab Jupiter.
Wanita yang mirip burung itu meletakkan tangannya di leher dan merapatkan bibir. "Tapi, tapi, kami berhak ...," ia tergagap.
Winston melangkah ke samping Patricia dan berdehem. "Madam, kalau saya boleh mengusulkan, paling tidak mari kita buka amplop itu dan lihat yang tertulis di dalamnya."
Patricia ragu-ragu sejenak, melirik Keluarga Fitchhorn seolah-olah mereka adalah musuh yang berbahaya. Akhirnya ia menghela nafas dan mengangguk ke arah Jupiter. "Silakan, Jupe," katanya, "mari kita lihat apa yang dikatakan ayahku. Aku udah nyaris tidak tahan lagi akan teka-teki ini. Mari kita selesaikan secepatnya!"
Jupiter mengangguk dan menyelipkan ibu jarinya di tepi segel lilin itu, membelahnya menjadi dua. Dengan hati-hati dikeluarkannya secarik naskah yang bagus dari dalam amplop. Kertas itu terlipat tiga kali. Ia meletakkannya di atas meja bilyar dan meratakannya.
Mereka semua berdesak-desakan untuk membacanya.
Surat itu berbunyi:
 
"???,
Aku akan sangat heran jika bukan kalian yang membaca ini -- jika asumsiku benar, maka kalian pasti tahu bahwa surat ini telah disegel dengan lilin. Jika segel itu rusak atau surat ini tidak beramplop lagi, berarti seseorang telah mendahului kalian!
Bagaimanapun juga kalian tidak kehilangan apa-apa! Karena jika kalian membaca ini, maka aku harus berkata ... 'ck, ck, ck!' Penafsiran kalian akan segala petunjuk itu tidak sesuai dengan reputasi kalian! Kalian tidak berpikir misteri ini akan sesederhana itu, bukan? Tentu saja kuharap tidak! Pelajari petunjuk-petunjuk itu lagi dan kali ini ... ingatlah dengan siapa kalian berurusan!
A. J. H."
 
"Demi Tuhan!" kata Pete. "Sama sekali bukan harta yang kita cari!"
"Karena itulah si pencuri menyegel kembali amplop ini," gumam Jupiter dengan serius. "Siapapun yang telah membuka surat ini tidak dapat memecahkan petunjuk terakhir ... dan membutuhkan kita untuk melakukannya!"
Orang-orang di sekitar meja bilyar saling berpandangan seolah-olah mencurigai si pencuri ada di antara mereka saat itu juga.
"Kita tunda pencarian sampai pagi," Jupiter memutuskan. "Besok pagi kita akan menelusuri kembali petunjuk dari mesin pemutar lagu dan melihat ke mana kita dibawanya."
"Baiklah," Winston menguap, "dengan seizin Anda, madam, saya akan pergi tidur."
"Tentu saja," kata Patricia. "Kita semua sebaiknya tidur. Hari yang panjang."
"Dua kali lebih panjang untukku!" kata Pete. "Tidak setiap hari ada hantu mengurung kita di ruang bawah tanah!"
"Apa?" seru yang lain serempak.
"Oh ya," kata Pete malu-malu, "kita terlalu terpaku pada petunjuk dari piringan hitam itu sehingga aku lupa menceritakan kisahku."
"Katamu kau dikurung oleh hantu?" tanya Jupiter tidak percaya.
"Aku tahu apa yang akan kau katakan," erang Pete, "kau akan berkata bahwa itu hanyalah khayalanku dan tidak ada yang namanya hantu dan aku tentu telah asal mengambil keputusan." Ia melanjutkan dengan menceritakan apa yang diingatnya sebelum ia ditinggal sendirian di dalam ruangan gelap tempat menyimpan anggur. "Aku tahu apa yang kulihat dan yang kulihat mengenakan gaun dan menggenggam tali bersimpul dan berpendar!" katanya mengakhiri.
"Luar biasa," kata Winston.
"Yah," timpal Timothy Fitchhorn datar, "khayalan yang luar biasa. Aku tidur sekarang!"
Istrinya mengangguk dengan mengantuk. "Aku naik ke kamar juga. Kalian sebaiknya juga, Anak-anak."
"Tidak ada yang mempercayaiku," gerutu Pete.
"Aku percaya ada yang aneh di rumah ini," kata Patricia tidak enak. "Dan malam ini aku akan tidur dengan lampu menyala."
"Aku akan tidur di lantai di kamar Bibi Patty jika dengan demikian Bibi akan merasa aman," Ben menawarkan.
"Aku akan merasa jauh lebih aman," bibinya mengaku.
Jupiter berusaha berpikir logis tentang hantu Pete. "Dalam situasi seperti itu, pikiranmu bisa mempermainkanmu," katanya menguliahi. "Mungkin saja kau hanya melihat apa yang diinginkan oleh pikiranmu."
"Atau mungkin saja kau tidak mau mengakui bahwa benar-benar ada hantu di rumah ini!" Pete menyeringai ke arah temannya yang kelebihan berat badan itu.
"Hantu atau bukan, kita harus berjaga sepanjang malam," kata Jupiter, menguap sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan. "Kita bergantian setiap tiga jam."
"Biar aku duluan," kata Bob suka rela. "Sekarang ada dua hal yang ingin kulihat di Inggris ... Menara London dan hantu Pete!"
Next Chapter